Senin, 04 Februari 2013

0 Hidup itu sebenarnya simple, tapi kita bersikeras membuatnya lebih rumit











Sudah lama sebenarnya ingin menulis tentang passion yang satu ini akhirnya sempat juga. Taekwondo saya geluti putus sambung sejak masa SMA hingga sekarang, alhasil saya mengoleksi 3 sabuk putih dari perguruan yang berbeda haha. Berbagai macam cedera sudah saya alami, dari lecet, memar, keseleo hingga yang terakhir tangan retak. Orang tua suruh saya cari hobi lain saja yang lebih ‘aman’ dan istri juga bertanya kapan mau berhenti mengingat cedera yang terakhir cukup parah. Tapi tetap saja saya bersikukuh, Taekwondo bukan hobi, bukan sekedar olah raga, it’s the way of life yang ingin saya jalankan seumur hidup kalau bisa.
Selain persepsi kurang aman yang saya disebut diatas, tidak sedikit yang berpendapat belajar bela diri mempromosikan kekerasan. Untuk alasan yang satu ini, menurut saya omong kosong.
Menyamakan ilmu bela diri dengan kekerasan ibarat menyamakan perkawinan hanya seputar sex.
Dalam perkembangannya ada 2 organisasi besar yang menaungi Taekwondo: WTF (World Taekwondo Federation) yang lebih berorientasi Taekwondo sebagai olah raga dan turnamen seperti olimpiade dan ITF (International Taekwondo Federation) yang berorientasi Taekwondo sebagai ilmu bela diri yang mengakar pada tradisi dan elemen-elemen budaya Korea.
Saya pernah mencicipi kedua-duanya, yang terakhir dan saat ini saya geluti lebih berorientasi pada tradisional Taekwondo sebagai ilmu bela diri. Setidaknya ada 3 elemen yang hadir diantara 2 styles diatas: patterns/kumpulan set teknik yang dikoreografikan (Poomsae/Hyeong), sparring (Gyeorugi) dan breaking/teknik menghancurkan objek (Gyeokpa). Perbedaan utamanya, menurut pengamatan pribadi, terletak pada kurikulum latihan sesuai dengan orientasi masing-masing dan tata krama di dalam Dojang (disiplin, tata krama sopan santun dengan murid senior dan Master dalam traditional Taekwondo lebih ketat, cenderung militeristik sementara dalam sport Taekwondo lebih relaks).
Pelajaran dibawah ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Tujuannya supaya saya sendiri juga ingat dan siapa tahu ada pembaca yang juga jadi tertarik belajar bela diri terlepas apa alirannya.
1.Musuh terbesar adalah diri sendiri
Semua orang yang pernah sparring hampir pasti setuju dengan yang pernyataan ini. Ketika kita kebobolan serangan atau kalah dalam bertarung, sering kali bukan karena lawan lebih kuat, teknik lebih baik dsb. Tapi karena rasa takut, minder duluan ketika maju (ini saya rasakan ketika masih sabuk hijau dihadapkan pada sabuk hitam), kalap sendiri sehingga melempar tinju dan tendangan secara acak atau terpancing emosi sehingga masuk dalam perangkap lawan. Mereka yang berpengalaman dengan jam terbang latihan 10 tahun+ tahu betul menguasai diri adalah langkah paling awal.
Seperti dalam hidup pada umumnya, ketika sparring sesungguhnya kita tidak bertanding dengan orang lain, kita bertanding dengan diri sendiri! Kita hanya menjadikan orang lain sebagai ‘ukuran standar’, kalau kita menang berarti kita telah melewati ukuran standar, kalau kita kalah berarti penguasaan teknik kita, disiplin & kesungguhan dalam latihan dan penguasaan diri kita dibawah ukuran standar tersebut.
2.Daya hancur mengikuti teknik yang tepat
Pelajaran ini saya bayar dengan harga mahal berupa tangan saya retak. Waktu itu ujian kenaikan sabuk dan saya diharuskan menghancurkan kayu setebal 2 cm (bukan kayu triplek tipis yang biasa dipakai untuk demo) secara horizontal dengan tangan kanan membentuk pisau (knife hand strike). Saya pikir ini kerjaan gampang, orang yang lebih kurus dari saya saja bisa, cewek lagi. Akhirnya tiba giliran saya, dengan percaya diri saya pukul sekuat tenaga. Tidak pecah. Dicoba kedua kali. Tidak pecah juga dan tangan kanan saya sudah bengkak sebesar bola tenis. Ternyata 2 kali pukulan saya salah target memukul pinggiran kayu bukan bagian tengahnya.
Kesalahan fatal pertama, waktu itu saya ingin cepat selesai saja, nervous, jadi tidak begitu melihat ke target (tidak menguasai diri). Kesalahan fatal yang kedua, sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa tujuan komponen ujian ini bukan sekedar menghancurkan dengan otot tapi mengaplikasi konsentrasi dan teknik secara benar. Kekuatan otot semata bila difokuskan pada target yang salah hanya akan menyakiti diri, semakin besar kekuatan yang dikeluarkan pada target yang salah, semakin sakit rasanya.
Ekesekusi teknik yang benar + konsentasi yang benar, maka kayu akan terbelah semudah membelah keju dengan pisau tajam.
Sering kali ‘rasa sakit’ dalam hidup timbul, karena kita berfokus pada hal-hal yang salah dan mengatasinya dengan teknik/cara yang salah pula jadi tidak heran rasa sakitnya juga besar.
3. Semakin simple semakin efektif
Flim laga suka memamerkan tendangan loncat terbalik berputar dan jurus-jurus lainnya yang enak dilihat mata. Waktu awal-awal latihan saya suka sok jagoan pamer tendangan gak karu-karuan waktu sparring, pokoknya jurus yang keliatannya ‘Wow’ saya keluarin. Betapa bodohnya, lawan tinggal menghindar saja sampai saya capai sendiri baru datang menghabisi saya haha.
Ternyata tendangan-tendangan ‘Wow’ lebih bertujuan marketing supaya orang tertarik datang bergabung, baru untuk push limit kemampuan diri i.e. keseimbangan, fleksibilitas, kontrol tubuh dsb.
Dalam konteks pertahanan diri, serangan yang paling efektif adalah yang paling singkat dan dapat menetralisir ancaman dengan segera.  Dari pengalaman pribadi hampir semua tekniknya sangat simple bahkan anak kecil saja bisa kalau dilatih, misal: meninju ke tenggorokan, menendang kemaluan dan ‘soft spots’ lainnya.
Jadi teringat dengan kata-kata Confucius: “hidup itu sebenarnya simple, tapi kita bersikeras membuatnya lebih rumit”.
Untuk hidup bahagia kita cukup punya pangan, sandang, papan dan waktu luang bersama-sama keluarga dan teman-teman dekat. Tapi kita malah bersikeras bahwa hidup baru bisa bahagia kalau punya mobil BMW, kalau rumah di kawasan elit, kalau anak ranking 1 terus dikelas dan kalau kalau lainnya.
4.Yin dan Yang: keseimbangan dan kesatuan hidup
Taekwondo without martial art spirit becomes just a sport”, kata master saya. “Taekwondo tanpa semangat seni bela diri (i.e.kode etik) hanya  menjadi sekedar  olah raga”.  Saya lupa dalam konteks apa master saya mengatakan ini di kelas, tapi kata-kata ini memberikan kesan mendalam karena ya memang pada saat itu saya pikir bela diri hanya untuk sekedar olah raga yang menyenangkan saja, tidak ada bedanya dengan main bulu tangkis, basket dsb. Saya bahkan tidak terlalu peduli sejarahnya, tidak tahu mengapa aba-aba diucapkan dalam bahasa Korea, pokoknya saya suka karena jurus-jurusnya kelihatan keren.
Jaman dulu ilmu bela diri apapun terlepas apa latar belakang kulturalnya merupakan salah satu outlet ekspresi diri yang mengakar  dari budaya lokal, filosofi, disiplin ilmu yang bertujuan mempertahankan diri dan sebagai sarana melatih fisik, mental dan spiritual.
Jaman sekarang perang menggunakan senjata pemusnah yang canggih sehingga ilmu bela diri traditional terlihat seperti barang antik yang cocoknya masuk museum. Jadi tidak heran untuk mempertahankan relevansinya dalam kehidupan moderen orientasinya dibungkus menjadi olah raga atau hanya berakhir di flim layar laga. Bahkan muncul sekolah-sekolah bela diri yang berorientasi profit semata  dengan menjanjikan sabuk hitam dalam 1-2 tahun selama si murid membayar uang iuran dengan durasi kontrak yang ditentukan.
Tentu tidak ada salahnya belajar bela diri semata-mata hanya untuk olah raga. Juga tidak ada salahnya mengambil keuntungan dari mengajar bela diri. Mirip tempat ibadah, meskipun pada hakikinya bersifat non-profit, tetap saja tetap saja butuh uang untuk melayani umatnya.
Yang menjadi masalah bila integritas seni bela diri mulai dikorupsi oleh motif profit semata. Dalam kehidupan nyata misalnya, baru-baru ini ada stasiun TV swasta yang ramai dibicarakan karena melabrak kode etik jurnalisme dan menampilkan publikasi murahan demi meningkatkan ratingnya. Meminjam kata-kata master saya diatas: “Jurnalisme tanpa berpegang pada integritas hanyalah infotainment murahan”. Silahkan cari sendiri contoh-contoh lainnya dalam hidup.
Sebenarnya masih banyak lagi pelajaran-pelajaran hidup lainnya dari Taekwondo tapi jadi kepanjangan hehe.
Dibawah ada video demo Taekwondo yang saya suka, enjoy!







sumber:www.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates