Survei Kompas, Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua Ketat
Tidak Dimaksud Mewakili Pendapat Masyarakat DKI Jakarta
Di tengah tak adanya lembaga survei resmi atau konsultan politik yang berani melakukan survei kepada pemilih pilkada DKI Jakarta putaran 2, hanya Kompas yang berani melakukan survei, bahkan sudah dua kali.
Memilih responden dari DPT, seharusnya hasil survei Kompas kedua lebih menggambarkan keberpihakan responden yang notabene diambil komunitas pemilih yang telah terdaftar di DPT. Mungkin benar, tidak menggambarkan pendapat seluruh masyarakat DKI Jakarta, antara lain karena tidak ada responden dari Kepulauan Seribu, tetapi mestinya Kompas berani menyatakan survei mewakili komunitas masyarakat yang terdaftar di dalam DPT dan mendekati pendapat masyarakat yang punya hak pilih.
Loyalitas Dukungan terhadap Calon Gubernur DKI Jakarta Putaran 2
Hasil survei Kompas 31 Agustus - 6 September 2012 menunjukan persaingan FN dan JA merebut hati warga Jakarta yang masih bimbang akan sangat mempengaruhi keberhasilan kedua pasang calon gubernur-wakil gubernur untuk memenangkan Pilkada putaran 2.
Dari sisi loyalitas, kedua calon berimbang. 84% pemilih FN pada putaran pertama tetap pada pilihannya, 6% pindah ke JA. 85% pemilih JA pada putaran pertama tetap pada pilihannya, 8% pindah ke FN. Pemilih yang berpindah ke lain hati menurut survei lebih banyak terjadi di kubu JA.
Pemilih yang belum jelas pilihannya akan sangat mempengaruhi kemenangan salah satu calon pasangan gubernur-wakil gubernur. Berapakah besarnya ? 10% x 34,05% (pemilih FN) + 7% x 42,60% (pemilih JA) + 24% x 23.35 (pemilih calon2 yg kalah di putaran 1) = 11,99%.
Ada kurang lebih 12% pemilih dari total pemilih putaran 1 yang belum jelas berpihak ke mana, ditambah pemilih yang belum memanfaatkan haknya pada Pilkada putaran 1 menjadi lahan garapan yang harus diyakinkan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok.
Untuk menarik pemihakan para pemilih yang masih mengambang, pihak Foke - Nara dapat memanfaatkan keuntungan bahwa pemilih dari sisi kelompok usia menengah dan tua lebih mengenal mereka dibanding pengenalan pemilih pada Jokowi-Ahok, sedangkan dari sisi penyikapan terhadap sosok calon Gubernur, pemilih dari semua kelompok ekonomi secara merata lebih banyak yang bersikap positif terhadap Foke-Nara dibanding Jokowi-Ahok. Adapun kelebihan Jokowi-Ahok menurut survei, penilaian pemilih dari semua level pendidikan terhadap kemampuan diri mereka yang dianggap lebih mampu dibanding pasangan Foke - Nara.
Saya pikir kali ini Litbang Kompas lebih berani dalam melakukan survei, dengan mengukur keberpihakan pemilih yang sample-nya berasal dari DPT. Tak mudah untuk memprediksi siapa yang akan unggul, melihat hasil survei yang relatif seimbang ini, memang Pilkada putaran kedua akan ketat.
Di tengah tak adanya lembaga survei resmi atau konsultan politik yang berani melakukan survei kepada pemilih pilkada DKI Jakarta putaran 2, hanya Kompas yang berani melakukan survei, bahkan sudah dua kali.
- Pertama pada 13 - 15 Agustus, 747 responden usia 17 tahun ke atas, komunitas pemilik telepon Telkom, sample diambil dari buku telepon.
- Kedua pada 31 Agustus - 6 September, 600 responden usia 17 tahun ke atas, sample diambil secara sistematis dari Daftar Pemilih Tetap (DPT), responden berdomisili di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat.
Memilih responden dari DPT, seharusnya hasil survei Kompas kedua lebih menggambarkan keberpihakan responden yang notabene diambil komunitas pemilih yang telah terdaftar di DPT. Mungkin benar, tidak menggambarkan pendapat seluruh masyarakat DKI Jakarta, antara lain karena tidak ada responden dari Kepulauan Seribu, tetapi mestinya Kompas berani menyatakan survei mewakili komunitas masyarakat yang terdaftar di dalam DPT dan mendekati pendapat masyarakat yang punya hak pilih.
Loyalitas Dukungan terhadap Calon Gubernur DKI Jakarta Putaran 2
- Pemilih Foke-Nara putaran 1: 84% tetap memilih FN, 6% pindah pilihan ke JA, 10% belum jelas
- Pemilih Jokowi-Ahok putaran 1: 85% tetap memilih JA, 8% pindah pilihan ke FN, 7% belum jelas
- Pemilih Calon lain putaran 1 : 38% pilih FN, 38% pilih JA, 24% belum jelas.
- Responden Usia Muda : 28% Lebih Tinggi FN, 40% Sama Besar, 32% Lebih Tinggi JA
- Responden Usia Menengah : 43% Lebih Tinggi FN, 35% Sama Besar, 32% Lebih Tinggi JA
- Responden Usia Tua : 39% Lebih Tinggi FN, 36% Sama Besar, 25% Lebih Tinggi JA
- Kondisi Ekonomi Rendah : 38% Positif FN, 25% Sama Besar, 37% Positif JA
- Kondisi Ekonomi Menengah : 41% Positif FN, 28% Sama Besar, 31% Positif JA
- Kondisi Ekonomi Tinggi : 67% Positif FN, 10% Sama Besar, 23% Positif JA
- Jenjang Pendidikan Responden Rendah: 26% Lebih Tinggi FN, 39% Sama Besar, 35% Lebih Tinggi JA
- Jenjang Pendidikan Responden Menengah: 25% Lebih Tinggi FN, 41% Sama Besar, 34% Lebih Tinggi JA
- Jenjang Pendidikan Responden Tinggi: 15% Lebih Tinggi, 40% Sama Besar, 45% Lebih Tinggi JA
Hasil survei Kompas 31 Agustus - 6 September 2012 menunjukan persaingan FN dan JA merebut hati warga Jakarta yang masih bimbang akan sangat mempengaruhi keberhasilan kedua pasang calon gubernur-wakil gubernur untuk memenangkan Pilkada putaran 2.
Dari sisi loyalitas, kedua calon berimbang. 84% pemilih FN pada putaran pertama tetap pada pilihannya, 6% pindah ke JA. 85% pemilih JA pada putaran pertama tetap pada pilihannya, 8% pindah ke FN. Pemilih yang berpindah ke lain hati menurut survei lebih banyak terjadi di kubu JA.
Pemilih yang belum jelas pilihannya akan sangat mempengaruhi kemenangan salah satu calon pasangan gubernur-wakil gubernur. Berapakah besarnya ? 10% x 34,05% (pemilih FN) + 7% x 42,60% (pemilih JA) + 24% x 23.35 (pemilih calon2 yg kalah di putaran 1) = 11,99%.
Ada kurang lebih 12% pemilih dari total pemilih putaran 1 yang belum jelas berpihak ke mana, ditambah pemilih yang belum memanfaatkan haknya pada Pilkada putaran 1 menjadi lahan garapan yang harus diyakinkan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok.
Untuk menarik pemihakan para pemilih yang masih mengambang, pihak Foke - Nara dapat memanfaatkan keuntungan bahwa pemilih dari sisi kelompok usia menengah dan tua lebih mengenal mereka dibanding pengenalan pemilih pada Jokowi-Ahok, sedangkan dari sisi penyikapan terhadap sosok calon Gubernur, pemilih dari semua kelompok ekonomi secara merata lebih banyak yang bersikap positif terhadap Foke-Nara dibanding Jokowi-Ahok. Adapun kelebihan Jokowi-Ahok menurut survei, penilaian pemilih dari semua level pendidikan terhadap kemampuan diri mereka yang dianggap lebih mampu dibanding pasangan Foke - Nara.
Saya pikir kali ini Litbang Kompas lebih berani dalam melakukan survei, dengan mengukur keberpihakan pemilih yang sample-nya berasal dari DPT. Tak mudah untuk memprediksi siapa yang akan unggul, melihat hasil survei yang relatif seimbang ini, memang Pilkada putaran kedua akan ketat.
0 komentar:
Posting Komentar