Interpretasi Hasil Jajak Pendapat Litbang Kompas
747 Responden
Sungguh sulit mencari lembaga resmi yang mau melakukan survey atau jajak pendapat memprediksi siapa pemenang pemilihan gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta putaran 2. Lembaga survey mungkin menahan diri mengingat serunya adu kekuatan antara Joko-Ahok vs Foke-Nara pada final Pilgub ini. Namun akhirnya ada juga lembaga yang punya nama mau melakukan jajak pendapat, yaitu Litbang Kompas, sekalipun respondennya terbilang sangat kecil, hanya 747 responden saja, ditanya melalui telepon. Angka 747 ini unik juga mungkin perancang survey menyukai Boeing 747, pesawat besar yang nyaman dinaiki.
Hasil jajak pendapat Kompas pada 13 - 15 Agustus 2012, yang dikutip dari Litbang Kompas 27 Agustus 2012 adalah sebagai berikut (data di bawah ini saya kutip dari artikel Artikha berjudul ‘Hasil Jejak Pendapat Pilgub DKI Putaran 2‘):
Bila 747 responden dipilih secara acak tanpa mengetahui mendukung siapa responden tersebut, maka interpretasi saya atas jajak pendapat Kompas adalah sebagai berikut:
Tak salah bila ada yang mengatakan peluang kedua pasang kontestan pada putaran 2 adalah fifty - fifty. Jangan remehkan nasihat Oma Irama tak berbekas, sebaliknya jangan remehkan militansi pendukung Jokowi-Ahok dengan kampanye hebat di dunia maya. Seandainya kedua kontestan bertarung memperebutkan Gubernur dan Wakil Gubernur ‘provinsi’ Kompasiana, mungkin Jokowi-Ahok menang. Itupun dengan asumsi the silent majority sebagian besar memilih Jokowi-Ahok.
Sayang DKI Jakarta terlalu luas dan sejauh ini tak ada yang berani survey dengan sample besar. Baiknya kita tunggu saja tanggal 20 September 2012, mudah-mudahan ada Gubernur -Wakil Gubernur terpilih, masa iya hasilnya draw dan perlu perpanjangan waktu dengan putaran ke 3?
Hasil jajak pendapat Kompas pada 13 - 15 Agustus 2012, yang dikutip dari Litbang Kompas 27 Agustus 2012 adalah sebagai berikut (data di bawah ini saya kutip dari artikel Artikha berjudul ‘Hasil Jejak Pendapat Pilgub DKI Putaran 2‘):
- · 64,8 % dari jumlah Responden menyatakan bahwa Isu Sara tidak mengubah pilihan di Pilkada DKI putaran II
- · 7,6 % dari jumlah Responden akan mengubah pilihan di putaran ke 2
- · 27,6 % dari jumlah Responden tidak menjawab dantidak mencoblos
- 71,8% dari total Responden menjawab tidak akan mengikuti arahan partai pilihan responden dalam menentukan gubernur di putaran ke II
- 14,9% dari total Responden menjawab akan mengikuti arahan partai pilihan Responden
- 13.3% dari total responden menjawab tidak memilih dan tidak tahu
Bila 747 responden dipilih secara acak tanpa mengetahui mendukung siapa responden tersebut, maka interpretasi saya atas jajak pendapat Kompas adalah sebagai berikut:
- 64,8% responden tidak terpengaruh isu SARA, artinya pendukung kedua kubu tetap pada pilihannya, tapi kita tak tahu berapa banyak pendukung Jokowi-Ahok dan Foke-Nara, yang paling mendekati mungkin sejumlah pemilih mereka di putaran pertama, masing2 40-an% dan 30-an%. Sisanya ya masa mengambang.
- 7,6% responden akan mengubah pilihan pada Pilgub putaran 2. Bila jumlah pemilih yang mengubah pilihan dianggap setara, maka persentase jumlah pemilih yang mengubah pilihan lebih banyak yang berpihak ke Foke-Nara. Sederhana saja menghitungnya 7,6% dikalikan jumlah pemilih kedua Cagub-Cawagub periode 1. Bagi pemilih calon di luar kedua finalis sudah pasti mereka akan mengubah pilihan 100%, bila tidak memilih Foke-Nara tentu pilih Jokowi-Ahok atau Golput. Berapa jumlah nominalnya, hanya Tuhan yang tahu.
- 71,8% responden tak akan mengikuti arahan partai. Artinya statement ini berlaku bagi kedua pihak. Responden tak akan mengikuti arahan PDIP dan Gerindra, demikian pula tak akan mengikuti arahan Demokrat-Golkar-PAN-PKS-PKB-PPP. Apakah artinya responden berpihak pada Jokowi-Ahok? Ya tidak ada yang tahu, karena respondennya dipilih secara acak dan tidak diketahui pendukung siapa.
- 14,9% responden akan mengikuti arahan partai. Mana yang lebih banyak apakah pendukung PDIP-Gerindra atau Demokrat-Golkar dkk ? Silakan ditebak sendiri saja, bila yakin pendukung PDIP-Gerindra lebih banyak maka menguntungkan Jokowi-Ahok, bila sebaliknya ya menguntungkan Foke-Nara.
Tak salah bila ada yang mengatakan peluang kedua pasang kontestan pada putaran 2 adalah fifty - fifty. Jangan remehkan nasihat Oma Irama tak berbekas, sebaliknya jangan remehkan militansi pendukung Jokowi-Ahok dengan kampanye hebat di dunia maya. Seandainya kedua kontestan bertarung memperebutkan Gubernur dan Wakil Gubernur ‘provinsi’ Kompasiana, mungkin Jokowi-Ahok menang. Itupun dengan asumsi the silent majority sebagian besar memilih Jokowi-Ahok.
Sayang DKI Jakarta terlalu luas dan sejauh ini tak ada yang berani survey dengan sample besar. Baiknya kita tunggu saja tanggal 20 September 2012, mudah-mudahan ada Gubernur -Wakil Gubernur terpilih, masa iya hasilnya draw dan perlu perpanjangan waktu dengan putaran ke 3?
0 komentar:
Posting Komentar