Kamis, 13 September 2012

0 Sifat Kekanak-kanakan DPR


 

Sifat Kekanak-kanakan DPR






Ditulis Oleh M. Taufiqillah Al-Mufti   

Dalam dekade terakhir pemerintah menjadi seperti taman kanak-kanak. Tak lebih dari sekumpulan siswa-siswa TK. Mengapa demikian, karena dalam setiap menyikapi kasus para elit DPR membahas secara berbelit-belit. Tak hanya itu kasus-kasus yang terbilang besar atau parah tidak mampu terselesaikan secara tuntas dan cepat, seperti pada kasus penyuapan dana SEA GAMES oleh M. Nazzaruddin. 
 

Hal ini menjadkan negara Indonesia perlu adanya introspeksi diri atau muhasabbah dari segala sesuatu yang menimpa negri ini. Dari aspek finansial maupun dari aspek non finansial. Solusi selalu ditawarkan untuk menggodok pemerintahan absolut tidak berembel-embel kesenangan semata dalam menjabat. Marzuki Ali ketua DPR pernah mengungkapkan solusinya dalam membangun pemerintahan yang representatif.
 
Bahwa kepada para parpol atau partai partai politik agar selalu intern dalam mengawasi anggotanya yang akan dicalonkan dalam daftar anggota birokrasi negara. Telah kita ketahui partai-partai saat ini sangat mengejar kekuatan masa atau kuantitatif tanpa memperdulikan aspek kualitatif.
 
Para elit partai mengajukan nama-nama orang terkenal seperti artis-artis dan lain lain kepada legislatif supaya mudah memasukan dalam jajaran anggota DPR. Jadinya pemerintahan yang rakyat harapkan dapat mengantarkan aspirasi mereka menjadi keuntungan bagi anggota birokrasi sendiri.
 
Ini sangat mengkhawtirkan, apalagi jika mengutib dari isu pemerintahan hari ini. Banggar atau badan anggaran akan melakukan renovasi ruang rapat dengan nilai anggaran Rp 20 Milliar. Anggaran yang cukup fantastis ini menimbulkan dercak kaget kepada seluruh aliansi masyarakat yang mengetahuinya.
 
Untungnya anggaran tersebut belumlah terealisasikan, karena dalam realisasi dana yang cukup besar ini menuai dinamika problem menganai siapa yang harus bertanggung jawab soal ini. Ketua DPR Marzuki Ali melempr masalah ini kepada setjen DPR Nining Indra Saleh karena ia tidak melaporkan apa-apa dalam anggaran ini.
 
Akan tetapi Nining juga melemparkan masalahnya kepada Muker ketua bidang badan anggaran. Ia menganggap masalah ini adalah rekayasa semata dari pihak banggar. Masalah seperti inilah yang saya maksud sifat keanak-anakan DPR yang belum lekas hilang. Tidak adanya pahlawan dalam masalah artinya seseorang yang mengaku dengan tegas untuk menanggung masalah ini.
 
Saya hanya sebagai rakyat kecil berharap kepada para wakil rakyat agar dapat bersikap lebih professional dalam menyikapi masalah kenegaraan terutama mengenai rakyat. Menyoal solusi masalah kepemimpinan ini saya sepaham dengan pemikiran Marzuki Ali, agar para partai melakukan konvensi secara intensif  kepada kadernya yang akan memimpin di kursi DPR.
 
Jangan hanya mementingkan keuntungan secara individu tetapi harus universal. Rakyat menantikan wajah-wajah baru DPR yang siap lahir maupun batin untuk mengemban amanah rakyat.

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates