Minggu, 12 Mei 2013

0 Berterima Kasih kepada Pengkritik dan Menanggapi Kritik dalam perspektif yang benar

 
 

          Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengatakan baju kita ada kotoran. Seperti apakah reaksi anda ???

I
A: pak maaf, bajunya ada kotorannya tuh…
B: “Kaya baju kamu bersih aja, cek dulu tuh baju kamu….

II
A: “pak, maaf, bajunya ada kotorannya tuh…
B: “Biasalah…namanya juga kerja di dekat kubangan, biar aja lah baju saya kotor.”

III
A: “pak, maaf, bajunya ada kotorannya tuh…”
B: “Eh…kamu iri ya dengan baju saya ? Kok  kamu yang repot.. terserah saya dong ..saya yang pakai…

IV
A: “pak, maaf, bajunya ada kotorannya tuh…
B: “memang apa sih yang sudah kamu  lakukan ? urus saja diri sendiri.. malah sibuk ngurus baju orang lain..

V
A: “pak, maaf, bajunya ada kotorannya tuh..
B: “Oh ya, terima kasih  ya kamu sudah memberi tahu. Sebelah mana yang kotor ?

    Dari ilustrasi diatas, ada lima tipologi manusia ketika ada yang mengkritik. Namun, hampir sebagian besar kita bereaksi negatif dan hanya sedikit yang memandangnya positif.
Hal itu jelas manusiawi, rasanya didunia ini tidak ada manusia yang mau disalahkan atau ditunjukan kesalahannya apalagi didepan umum. Beragam reaksi muncul, mulai dari acuh tak acuh, merasa lebih baik, tidak mau mengakui hingga kebakaran jenggot dan mengkritik balik.
Padahal jika direnungi lebih jauh, kritik adalah bentuk perhatian orang lain terhadap kita. Seharusnya, jika ada orang yang masih mau  memperhatikan anda ,  itu layak diapresiasi. Masih syukur ada orang yang peduli, jika tidak maka kita akan merasa benar sendiri.
Ketika ada yang mengkritik tak jarang keluar lontaran, “pengamat hanya bisa mengkritik , jika disuruh melakukan belum tentu lebih baik,” atau penonton hanya bisa ngomong, kalau disuruh turun ke lapangan lebih fatal lagi”.
      Mari kita cermati. Yang namanya pengamat, penonton sesuai tugas dan fungsinya jelas mengamati dan menonton. Jika mereka melihat ada hal yang keliru, kemudian memberi tahu itu baik. Pertanda mereka mengamati dengan cermat dan jeli.
Wajar dong mereka mengkritik, karena itulah peran mereka, tidak mungkin mereka menjadi pemain. Kalau memang  handal dan cakap tentu mereka akan memilih menjadi pemain daripada hanya sebatas mengamati.
Nah, seharusnya para pemain dan pelaku berterima kasih, sudah ada yang bermurah hati  mau mengamati dan memberi tahu kekeliruan. Tak perlu emosi, kebakaran jenggot, hingga menyerang balik. Coba  kalau pertandingan sepak bola penonton diam saja, maka ada dua kemungkinan yaitu mereka sebenarnya tidak sedang menonton dan pertandingan akan berjalan monoton.
Sejarah ilmu pengetahuan menunjukan berpikir kritis melahirkan perbaikan-perbaikan menuju kesempurnaan. Seandainya Galileo tidak mengkritik pandangan yang menyatakan bumi datar dan bumi sebagai pusat tata surya, maka umat manusia akan tetap menjadi katak dalam tempurung.
Bukankah dalam kehidupan setiap kita punya peran masing-masing. Setiap manusia harus mengambil peran itu dan siap dengan konsekuensinya. Jika semua melaksanakannya dengan baik akan tercipta keseimbangan dalam masyarakat.
Karena itu mari berlapang dada menerima kritik karena hakikatnya itu adalah pesan kebaikan, kecuali anda merasa paling benar dan  telah menjelma menjadi malaikat yang tidak memiliki salah dan khilaf. Menerima kritik adalah lumrah, yang tidak etis adalah merasa benar sendiri dan memaksakan hal itu pada orang lain.
Harus diakui, suka atau tidak kritik merupakan sesuatu yang kurang  bagi siapa pun. Jika ada yang mengatakan silahkan kritik kami, jelas itu hanya retorika karena bagaimanapun, jika ada seseorang yang membeberkan aib sendiri dilubuk hati pasti ada perasaan tidak nyaman.

      Pokok permasalahannya adalah keinginan keras tiap-tiap pihak untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Jika perselisihan ini bersifat objektif dan konstruktif dalam upaya menyelesaikan suatu permasalahan secara bersama-sama, maka perselisihan di sini merupakan suatu hal yang positif. Namun, sering kali terjadi perbedaan pendapat mengarah pada pertentangan emosi dan permusuhan.
Untuk menghindari terjadinya perselisihan yang negatif, perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut ini: 

1. Harus melihat situasi
Banyak orang berpendapat bahwa perbedaan pendapat atau perselisihan harus diselesaikan pada saat itu pula atau pada saat terjadinya perselisihan itu.

Pendapat ini tidak sepenuhnya benar! Harus diingat, penyelesaian perselisihan pada waktu dan kondisi yang tidak tepat, tidak akan menyelesaikan permasalahan tersebut, bahkan mungkin hanya akan memperkeruh suasana. Waktu dan situasi yang tepat untuk menyelesaikan masalah adalah:
  • Pertemuan organisasi secara formal.
  • Pertemuan evaluasi program.
  • Pertemuan informal terbatas hanya pada pihak-pihak yang bertikai, dan jika perlu ada seorang mediator.
  • Jika situasi masalah sangat kritis dan mengganggu, perlu secepatnya diselesaikan bersama.
  • Beberapa waktu setelah pertikaian terjadi, dimana masing-masing pihak sudah mereda emosinya.
  • Jika ada seorang atasan atau seseorang yang dituakan hadir dalam pertemuan pihak-pihak yang bertikai.
2. Membiasakan diri mengungkapkan kritik konstruktif dan elegan
Sering kali perselisihan timbul dimulai dengan saling mengkritik, berlanjut pada debat kusir, kemudian menjadi konflik, dan diikuti oleh perasaan sakit hati dari masing-masing pihak.
Dengan demikian, kritik yang kita lontarkan bukannya memberikan kontribusi positif, melainkan malah menghancurkan hubungan baik dengan orang lain. Itu sebabnya, seorang wanita yang ingin tampil asertif harus mengelola diri dan membiasakan diri untuk dapat mengemukakan kritik secara konstruktif dan elegan.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengungkapkan kritik secara asertif namun tidak memberikan kesan negatif adalah:
    • Diusahakan menghindari penggunaan kata-kata yang “menyengat” atau kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain. Dapat saja seseorang menerima inti kritik yang disampaikan, namun tidak sepenuhnya dapat menerima cara penyampaian kritik itu. Dengan hanya satu atau dua kata menyengat atau menyinggung perasaan dapat mengakibatkan seluruh pernyataan kritik menjadi tidak berguna karena “nila setitik rusak susu sebelanga”.

      Oleh karena itu, kita harus mampu mengendalikan diri secara maksimal, agar senantiasa berkata-kata dengan baik. Apalagi bagi seorang wanita, perkataan yang baik merupakan paduan positif bagi citra kewanitaan yang memukau.
    • Di sisi lain, kadang-kadang memang kata-kata menyengat perlu juga diberikan dalam jalur organisasi formal sebagai shock therapy. Dalam artian hal itu digunakan untuk memberikan reinforcement positif.
Namun perlu diingat, dalam hal ini perkataan yang dilontarkan jangan sampai terlampau berlebihan dengan kata-kata kasar atau kata-kata yang merendahkan martabat orang lain sebagai akibat tumpahan emosional negatif yang meluap-luap, sehingga tidak membawa dampak buruk terhadap hubungan antarpribadi dan kelancaran aktivitas sehari-hari. 

3. Menanggapi Kritik dalam perspektif yang benar
Perselisihan acap kali terjadi ketika kita menanggapi kritik tidak pada perspektif yang benar sesuai pokok permasalahan yang ada, melainkan lebih memperhatikan kata-kata yang dikeluarkan, siapa yang mengatakan, bagaimana kritik itu disampaikan, dan hal-hal yang bersifat superfisial semata.
Hal-hal tersebut memang berpengaruh terhadap pemahaman terhadap kritik yang dilontarkan, namun diharapkan kita tetap dapat berkonsentrasi penuh pada inti kritik dan menerimanya secara positif, sehingga kita dapat menerima kritik pada proporsi permasalahan dan mengabaikan unsur pribadi dan emosional negatif. 

4. Berani menerima kata-kata 'pedas' dengan maksud untuk tidak mengubah substansi permasalahan
Konsekuensi dalam menerima kritik dengan perspektif yang benar adalah siap untuk menerima kata-kata pedas. Dalam artian, menerima kritik bukan sebagai suatu serangan, melainkan merupakan masukan yang relevan dengan substansi permasalahan.

5. Mengkritik dengan Elegan
Sebaliknya apabila kita melancarkan kritik terhadap orang lain, maka kita harus mengacu pada norma-norma yang berlaku umum. Dengan demikian, kritik dimaksudkan sebagai “peringatan” terhadap suatu hal yang melenceng dari norma yang ada dan menganggu aktivitas bersama.
Selain itu, kritik pun mengandung pengharapan akan adanya upaya perubahan terhadap situasi dan kondisi yang kurang menguntungkan bagi banyak pihak. Beranjak dari esensi kritik tersebut kita harus memperhatikan faktor-faktor yang menentukan apakah suatu kritik menimbulkan perasaan setuju atau tidak pada pihak penerima kritik, yaitu:
    • Derajat yang menyangkut keinginan pribadi dan keputusan yang harus dipatuhi serta tidak memiliki alasan lain.
    • Derajat menyangkut perbedaan antara tingkah laku dan eksistensi orang yang mengkritik.
    • Frekuensi dari sikap yang dilarang atau tidak disukai.
    • Konsistensi dari sikap yang dilarang.
Secara keseluruhan suatu kritik memiliki kualitas konstruktif apabila kritik itu memberikan perasaan terjamin, aman dan tidak takut. Hal itu dapat dicapai apabila kritik mempunyai relevansi yang tinggi terhadap permasalahan yang dihadapi dan memiliki fleksibilitas yang dapat diimplementasikan dalam segala situasi. 



0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates