Minggu, 03 Maret 2013

0 Pemimpin Itu Tak Perlu Pintar





Ada yang menarik dalam falsafah budaya jawa tentang kepemimpinan, sebagaimana yang diucapkan sujiwo tejo dalam sebuah acara talk show di sebuah tv, bahwa seorang pemimin yang baik adalah seorang pemimpin yang tidak jelas asal usulnya. Tejo memberi contoh dua pemimpin besar bangsa indonesia yakni Soekarno dan Soeharto. Seokarno adalah praklamator dan salah satu founding father bangsa indonesia yang terlahir dari ayah yang berprofesi sbg seorang guru dan ibu yang berprofesi sbg ibu rumah tangga. sedang soeharto lahir dari orang tua yang hanya berprofesi sbg petani keecil. Artinya kedua pemimpin bear ini sama sekali tidak tergolong darah biru. Kehadiran mereka juga tak dikira2!
Namun sejarah membuktikan, kedua pemimpin besar tersebut tercatat sbg pemimin bangsa indonesia paling gemilang. Dibanding pemimpin (presiden) indonesia yang lain, mulai dari Habibie, Megawati, Gusdur, hingga SBY, tak sama sekali mampu menyamai prestasi yang ditorehkan kedua pemimpin besar diatas. Faktanya, bahwa Habibie merupakan putra dari pasangan keluarga berada. Habibie juga terkenal cukup berprestasi dalam bidang akademik, hingga kemudian diminta pulang oleh soeharto ketika ia sedang asik berkarir di jerman. Megawati, siapapun tahu, ia adalah penerus tahta darah biru sang ayah, Soekarno. Gusdur juga demikian, ia merupakan putra dari seorang tokoh terhormat K.H. Hasyim Asyari yg notabene pendri NU. Pun dengan SBY, konon ia masih memilki garis keturunan Hamengkubuwono II. dan sejrah mencatat, deretan pemimpin darah biru diatas sama sekali tak membuat indonesia bangkit dari keterpurukan, justru, membuat negara indonesialuntang lantung dalam ketidak pasatian nasip yang demikian kompleks.
Terlepas dari falsafah budaya jawa yg berbau mitos tsb, secara logika sederehana dapat djelaskan, bahwa pemimpin yang berasal dari latar belakang keluarga antah berantah (rakyat kecil) tsb munkgin memiliki tingkat empati kerakyatan yang lebih tinggi dibanding pemimpinn yang berasal dari klan darah biru. Sebab, mereka adalah rakyat, mereka merasakan susahnya menjadi rakyat, maka ketika status sosial mereka berubah menjadi pemimpin, mereka tk serta merta lupa pada rakyat. di sisi lain, pemimpin dengan basic rakyat kecil begini biasanya bebas dari kepentingan kelompok dan ideologis tertentu. Hingga mereka fokus berkarya demi kepentingan rakyat semata.
Bukankah ini ciri2 pemimpin ideal? Memikirkan kepentingan rakyat tanpa terkontaminasi kepentingan kelompok dan golongan. Indonesia sesungguhnya gudangnya orang2 pintar. Siapapun mengakui, presiden kita sekarang, SBY, adalah pionir dalam urusan politik dan diplomasi. Gusdur dan habibie juga tak kaah pintar, bahkan keduanya identik dengan kecendikiaan dan mereka salah satu cendikiwaan indonesia yg paling membangggakan. Namun kepintaran itu semata menjadi sia2 ketika segala kebijakan mereka tidak pure atas nama rakyat.
Terkait hal ini, jokowi berujar, Pemimpin Itu Tak perlu Pintar, yang Penting Jujur & Bersih (detiknews.com). Menurut jokowi, kalau pemimpin itu pintar namun tidak jujur, nanti malah minterin rakyat. Ini terbukti, ketika kong kalikong konspirasi kelas elite menguasai inodnesia, maka faktanya seperti sekrang. segala macam manuver politik busuk atas nama kepentingan dipertontonkan. rakyatpun jadi korban kepintaran salah sasaran tsb. Padahal pemimpin itu sederhana saja, ngurusin rakyat!
Berkaca dari hal ini, setidaknya rakyat indonesia harus mulai pintar2 memilih pemimpin untuk periode mendatang. 2014 pemilu akan digelar. namun tampaknya pertarungan poitik masih diramaikan oleh muka2 lama yang tak terbukti berhasil membawa indonesia ke arah lebih baik.sebut saja, Megawati, Aburizal bakri, Prabowo, Wiranto, Akbar tanjung, Hata rajasa, Rhoma irama,  bahkan salah satu tokoh yg sudah lengser sebelum sempat bertarung, Anas urbaningrum. Mereka tentu saja tokoh2 yang telah teruji secara popularitas dan politik. namun juga mereka tak terlepas dari kepentingan ideologis dan kelompok yg melatar belakangi mereka menjadi capres. Apalagi, beberapa tokoh yang amsih terkait kasus hitam yg belum selesai hingga kini, seperti abu rizal terkait lumpur lapindo, wiranto dan prabowo terkait kasus HAM, serta roma irama terkait kasus suka kawin.
Melainkan Jokowi, seorang tokoh yang persis seperti diungkapkan falsafah jawa di atas, yang datang dari antah berantah, dengan latar belakang keuarga kecil dan miskin sederhana, berhasil menorehkan prestasi demi prestasi. Hingga kini, jokomwi tercatat sebagai walikota terbaik ketiga didunia. agaknya dapat sedikt mengobati krisis sosok pemimpin diindonesia ahir2 ini. terlebih mendekati pemilu 2014, ketika para elit2 politik saling sikut akibat kasus2 memalukan, jokowi melenggang dengan menorehkan prestasi demi prestasi. Jokowi smakin dikenal di seantero bumi nusantara. Akankah Jokowi menjadi sang ‘Ksatiro Piningit’, yang membawa indonesia menjadi negara gemah ripah loh jinawi, yg kedatanganya telah diramalkan Prabu Jaya baya beberapa Abad Silam?


su

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates