Minggu, 17 Maret 2013

0 Mati di Dunia, Abadi di Dunia Maya



Kita sedih mendengar kabar berita ketika sanak saudara, sahabat, handai taulan, teman sepermainan, meninggal dunia lebih dahulu dari kita sendiri. kita menyesal karena tak ada didekatnya saat detik-detik menjelang kematiannya. Kita ditinggalkan begitu saja tanpa pesan, tanpa meminta maaf atas segala kesalahan, tanpa membayar hutang, janji-janji guyonan yang mungkin sepele, namun terlupakan dan takkan pernah terbayar kembali selama-lamanya.

Kematian adalah kenyataan, bukan sekadar pengandaian. Maka tiada bermakna kehidupan seseorang tanpa kematian menanti di ujung jalan. Maka tiada waktu memiliki nilai tanpa dihadang keterhentian, hari yang membuatmu takut menghadapinya, hari yang membuatmu berjudi dalam kehidupan: itulah hari kematianmu. Siapa yang tau?

Fakta kematian bukan perihal sederhana. Kesibukan kita menghadapi realitas sehari-hari seringkali membuat kita terlena dan lupa tentang datangnya kematian. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keberadaan kita di dunia cenderung kita abaikan begitu saja. Kita lebih senang melontarkan pertanyaan tentang bagaimana saya bisa mendapatkan ini atau itu? Bagaimana saya bisa menjadi seorang sarjana atau insinyur? Bagaimana saya bisa pergi ke Madinah atau Paris? Bagaimana saya bisa mendapatkan dia? Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan saya sehari-hari? Dan seterusnya. 

Kita nyaris mengabaikan pertanyaan tentang: 

Bagaimana kehidupan ini bisa berjalan? 
Mengapa kita hidup? 
Darimana datangnya kehidupan? 
Bagaimana cara kerja kehidupan itu sendiri? 
Untuk apa kita hidup? 
Apa makna hidup? 
Kenapa kematian harus ada? dan sebagainya


Kita lebih senang menjawab pertanyaan facebookwhat’s on your mind? Atau perintah twittercompose new tweet. Kenapa? Supaya terlihat keren dimata pembaca status? Agar terlihat baik dimata pengguna media sosial lain? Pencitraan? Hanya kita sendiri yang tau. Keakraban kita dengan media sosial melebihi keakraban kita dengan siapapun, bahkan melampaui kemesraan relasi kita dengan Allah, atau realitas tertinggi jenis apapun yang kita percayai. Kita rela beriman kepada hyperreality kemayaan dunia, kita ikhlas mengeksplorasi diri dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan facebook dan twitter setiap harinya, kita taqwa, khusyu memantau pergerakan beranda dan lini masa, demi sesuatu yang kita sendiri tak tau persis apa arti sesungguhnya: eksistensi. Dan abadilah semua itu, lebih abadi dari kehidupan kita yang mungkin saja akan segera berakhir. Maka apakah keabadian ini yang akan kita sisakan setelah kematian datang kepada kita suatu nanti?

Okelah, oke.. Kehidupan memang tak cukup sederhana untuk dirumuskan. Disebut sebagai dialektika realitas juga terlalu simple, dijelaskan oleh ajaran agama juga tak sepenuhnya bisa diterima orang. Kita menjalani hidup dengan mempertahankan atau menentang budaya dan tradisi orang-orang sekitar. Sejarah dan ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk menentukan pintu masuk mana yang akan kita lalui dalam rangka memutuskan kehidupan jenis apa yang akan kita pilih. Keputusan kita memilih jalan hidup sepenuhnya ada pada diri kita, diri kita sendiri! Kematian adalah faktor X yang memungkinkan kita dapat segera memutuskan jalan hidup mana yang akan kita pilih: Apakah patut dan taat pada paham atau agama tertentu, atau menyelami kehidupan itu sendiri dengan bersuka cita menikmatinya.



0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates