Minggu, 03 Maret 2013

0 Fenomena memilih yang terbaik dari yang terburuk

Ketika dihadapi oleh pilihan memilih yang terbaik dari yang terburuk, kita selalu ada dalam tekanan. Politik direduksi menjadi pilihan sederhana. Obama atau John McCain? (Lalu lanjut ke Obama atau Romney?) Jokowi atau Foke? Rieke atau Aher? Di Mesir setahun yang lalu, Morsi (Ikhwanul Muslimin) atau Safiq (Militer)? Menolak memberi dukungan ke kandidat yang dielu-elukan pro-rakyat, atau setidaknya yang jauh lebih baik daripada incumbent, kaum Marxis revolusioner lalu dicap sektarian, dicap tidak merakyat, dan segala macam lainnya. Semua demi yang terbaik dari yang terburuk.




Politik revolusioner adalah lebih dari memilih antara dua kandidat, lebih dari memilih yang terbaik dari yang terburuk.

Keabsenan partai buruh telah mendorong semua aspirasi politik buruh ke channel-channel lain, dan mendorong munculnya tokoh-tokoh populis yang mana buruh berharap dapat menitip suara mereka, walaupun ini berarti lewat partai politik borjuis. Tugas kita adalah mengekspos kebenaran ini, yang jauh lebih kompleks daripada "Rieke bersih dan pro-buruh" sementara "Aher busuk dan pro-modal".

Buruh melihat apa yang mereka inginkan di Rieke, seperti halnya rakyat pekerja Amerika melihat apa yang mereka inginkan di Obama pada 2008. Pada pemilihan presiden 2008, AFL-CIO dengan 10 juta anggota memberi $54 juta ke kampanye Obama, lalu SEIU 1,9 juta anggota memberi $30 juta, UFCW 1,4 juta anggota memberi dukungan juga. Hampir 100% serikat buruh memberi dukungan ke Obama (jauh melebihi dukungan kelas buruh ke Jokowi ataupun Rieke), dan ini tidak membuat Obama kandidat kelas buruh sama sekali.

Peristiwa-peristiwa politik ini harus dijelaskan, dan bukan ditutup-tutupi dan ikut terseret ke dalam eforia yang ada. Di pihak lain, tidak cukup hanya menolak memberi dukungan dengan alasan sederhana "Dia datang dari partai borjuis". Ini tidak mendidik sama sekali.

Pertama

kita harus memahami mengapa rakyat pekerja memberikan dukungan mereka kepada tokoh-tokoh populis, kita harus gamblang: rakyat buruh hari ini tidak punya partai buruh sehingga akhirnya menerima yang terbaik dari yang terburuk. Ini menjadi lebih parah ketika yang terburuk ini sungguh-sungguh buruk, busuk, bau bangkai.

Kedua, 

kita harus bisa mengatakan dengan tegas kepada buruh bahwa dengan program-program reformis para kandidat populis ini, masalah fundamental mereka tidak akan terselesaikan. Kita harus telaah program-program tersebut, kekurangan-kekurangan mereka, dan menjelaskannya kepada kaum buruh.

Ketiga, 

kita harus terus menjelaskan kepada buruh akan kekuatan mereka sendiri, bahwa mereka mampu membangun partai politik mereka sendiri, tanpa harus menitipkan suara.

Uraian singkat ini semoga mendorong diskusi. Dalam waktu dekat saya akan menulis artikel analisa yang lebih detil mengenai ini (tidak hanya menyentuh Pilkada Jabar saja, tetapi secara teori mengenai fenomena tokoh populis, memilih yang terbaik dari yang terburuk.)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates