Minggu, 17 Maret 2013

0 Fenomena Hamil di Luar Nikah Dianggap Wajar


       Untuk diketahui, saya sudah menikah, dan istri saya hamil sekitar 2 bulan setelah kami menikah, syukurlah kami bisa menahan diri hingga tidak terjadi kehamilan sebelum menikah. Di luar kaitannya dengan agama dan kepercayaan, setelah menikah saya baru mengerti dan tahu apa “untung” dan “rugi” hamil sebelum menikah. Dan saya sarankan untuk anda yang belum dan akan menikah, usahakanlah agar jangan hamil dulu. 


      Entah apa yang harus saya katakan. Prihatin, miris, kecewa bercampur jadi satu. Berita-berita mengenai pergaulan remaja yang semakin bebas yang dulu hanya saya dengar dan baca dari media sekarang terjadi di lingkungan saya sendiri.
Di daerah asal, saya hidup di lingkungan yang bisa dibilang cukup jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Di mana tempat-tempat hiburan yang ada juga cukup terbatas. Tidak ada yang namanya tempat hiburan malam (semacam tempat karaoke) di sekitar tempat tinggal saya. Yang ada paling-paling hanya ‘angkringan’, istilah yang cukup poluler di daerah saya. Istilah yang biasa digunakan untuk menyebut warung kopi dan sejenisnya. Salah satu tempat favorit untuk nongkrong para lelaki dari yang remaja sampai kakek-kakek.
Namun nyatanya kondisi tersebut tidaklah cukup untuk membatasi pergaulan remaja-remaja putri. 
       Kondisi lingkungan yang demikian tidak membatasi mereka untuk mengenal ‘dunia luar’. Dalam beberapa bulan terakhir saja sudah terjadi beberapa kali pernikahan ‘mendadak’. Ya, pernikahan yang biasa disebut MBA ( Married By Accident ). Pernikahan karena kecelakaan. Kasus ini terjadi pada remaja-remaja putri yang baru saja lulus SMA. Bahkan beberapa kejadian di lingkungan saya juga terjadi pada remaja yang masih duduk di bangku SMA. Sungguh miris.
Kalau sudah begini mau tidak mau pernikahan harus terjadi. Entah pernikahan itu diinginkan orang tua mereka atau tidak.  Orang tua tentu tidak mau tambah malu jika cucu mereka nanti lahir tanpa seorang ayah.
Sebenarnya saya tidak cukup kompeten untuk mengurai akar masalah penyebab kejadian-kejadian tersebut. Saya hanya mencoba memberikan sedikit pandangan saja.

Pertama, 
Di zaman yang sering disebut sebagai zaman teknologi ini, ruang dan waktu seolah tidak lagi menjadi penghalang. Di sekitar sudah sangat mudah kita jumpai anak-anak SD yang menggunakan handphone atau bahkan Smartphone menjadi perlengkapan wajib. Dengan demikian komunikasi dengan siapapun tidak menjadi masalah termasuk dengan rekan lawan jenis. Bandingkan dengan zamannya generasi di atas saya(orang tua), yang mesti repot-repot menulis surat untuk mengutarakan rasa suka pada lawan jenis.

Kedua, 
internet. Kita tentu mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Pak Tifatul Sembiring beserta jajarannya di Kominfo yang mengklaim telah memblokir sebagian besar situs-situs yang memuat konten khusus dewasa. Namun sekali lagi, masih banyak celah di sana-sini. Dan inilah yang sulit untuk ditutup. Remaja pada umumnya, apalagi dalam masa puber rasa ingin tahunya sangat besar. Apalagi jika dilarang, semakin dilarang mereka akan semakin penasar
an. Akhirnya internet menjadi tempat menuntaskan rasa penasaran mereka.

Ketiga
Kualitas tontonan dari media yang bernama Televisi. Entah karena ketatnya persaingan atau karena memenuhi selera pasar, sekarang ini sedikit sekali tontonan berkualitas yang dapat kita saksikan di televisi. Rata-rata mereka hanya menjual sinetron dan FTV yang berisi percintaan serta gaya hidup remaja, perebutan harta warisan, dan juga  gaya hidup hedonime.
Namun celakanya justru inilah yang banyak disukai masyarakat kita. Inilah yang cukup membuat prihatin. Saya teringat adigum “kebenaran sekalipun akan kalah oleh kebohongan jika kebohongan itu ‘dijejalkan’ secara terus-menerus dan berulang-ulang”. Saya rasa ini yang juga terjadi pada kasus persinetronan. Setiap hari masyarakat kita ‘dijejali’ tontonan sinetron/FTV yang kurang mendidik secara berulang-ulang. Yang saya takutkan adalah jika sebagian masyarakat kita khususnya remaja ikut-ikutan meniru apa yang mereka tonton. Seolah-olah itu adalah hal wajar dan umum di zaman sekarang. Ini yang berbahaya.

Keempat
Ini menurut saya yang paling penting dan mendasar. Telah terjadi pergeseran nilai di masyarakat kita. Di mana batasan sesuatu dapat dianggap wajar menjadi bergeser dari nilai semula.

Saya ambil contoh :
~ Ketika ada  muda-mudi yang bermesraan di sebuah taman kita sering mengatakan;“Ah itu wajar, namanya juga anak muda.” Namun, ketika ada seorang pemuda yang memilih tidak berpacaran dan menjaga diri dia justru dianggap aneh, dan malah dijadikan bahan ejekan teman-temannya. “ Elu itu normal gak sih, kok kagak mau nyari pacar? Jangan-jangan elu m*ho ya?”
Sebagai penutup, saya berharap tidak akan pernah mendengar percakapan seperti ini suatu saat nanti ;

Saya : “Bu, si Lisa (bukan nama sebenarnya red) temen SMA  yang dulu pernah saya taksir itu gimana kabarnya sekarang?”

Ibu Saya  : “  Lho, kamu belum tau to Le. Dia itu kemarin ketahuan hamil, 
                  terus minggu depan rencananya mau dinikahkan. Kamu makanya, 
                  naksir cewek itu pilih-pilih. Cari yang ngerti agama, gak cukup cuma cantik!”

Saya         “ Astagfirullah, kok bisa begitu Bu?”

Ibu Saya   :” Kamu kok kaget gitu, itukan sudah wajar Le. 
                  Minggu kemarin aja si Mawar (bukan nama sebenarnya red
                  yang pernah kamu taksir juga ketahuan hamil, tapi sampai sekarang 
                  masih belum ngaku siapa ayah bayi yang dikandungnya.”

Saya          : ““ Astagfirullah 2X, ( guling-guling terus pingsan).
                   Kalau sudah begitu, siapa yang bisa disalahkan?

Salam berbagi

Semoga bermanfaat


sumber : kompasiana.com



0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates