Kamis, 06 Desember 2012

0 Keterpurukan Pelajar Dan Wajah Moral Indonesia





Di zaman yang semakin berkembang pesat seperti saat ini, sudah pasti status seorang pelajar akan banyak dipertanyakan. Apalagi dengan melihat kemajuan intelektual dan tekhnologi, sebagai orang yang menyandang gelar pelajar pasti punya kelebihan dan kecakapan dibidang masing – masing. Namun sayang, kesemuanya itu saat ini terasa sangat berbeda jauh dengan gelar pelajar yang mereka sandang. Contoh kecil mungkin bisa kita lihat pada bidang keilmuan, dimana para pelajar yang tergabung di komunitas berpendidikan (civitas academic) tak lagi berperan sebagai seorang pelajar sebagaimana mestinya. Meskipun tidak banyak, tapi sebagian besar dari pelajar yang dicita – citakan bisa merubah diri, lingkungan dan masyarakat ke arah yang lebih baik malah menjadi boomerang bagi orang – orang sekitar.
Generasi muda yang sudah tercengkeram fenomena pergaulan bebas (free life style).Gaya hidup yang sudah sangat jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia. Karena mungkin ada kalangan tertentu yang ingin merusak moral bangsa, maka lambat laun generasi muda kita akhirnya terjebak juga. Sehingga dekadensi moral yang melanda generasi muda khususnya para pelajar dewasa ini, menurut penulis sudah mencapai stadium tingkat 4,  dimana pergeseran budaya ke-pelajar-an dan berbagai polemik lain seputar pelajar menyebabkan dunia pendidikan di Indonesia khususnya seakan kehilangan fungsi strategis sebagai fasilitator terciptanya bangsa yang beradab, hal ini dibuktikan dengan hasil survei UNESCO yang menunjukan bahwa Indonesia adalah negara ke-10 dari 14 negara di Asia Pasifik yang memiliki kualitas pendidikan terendah . Maka tidak heran kalau dimana – mana tindak kriminalitas, tauran antar pelajar, miras dan narkoba sudah menyelimuti dunia pendidikan kita saat ini. Dengan demikian kita bisa melihat jelas dalam dunia pendidikan, dimana banyak para guru yang tidak lagi serius dalam proses belajar mengajar dan para pelajar sendiri yang sudah terbawa arus zaman. Mungkin kita bisa saksikan dan menilai sendiri keadaan bangsa saat ini,  dan pastinya penilaian kita akan berbeda dengan penilaian orang lain, namun penulis yakin mayoritas pasti akan setuju kalau dekadensi moral sudah merambat masuk ke dunia pelajar. Baik itu dari kalangan SD, SMP, SMA dan anak kuliyahan.
Berangkat dari hal ini, sudah pasti banyak dari kita yang menyalahkan para pelajar yang telah terjebak. Namun bagi penulis tidak seharusnya semua kesalahan itu ditimpahkan kepada pelajar. Sebab dekadensi moral yang melanda bangsa saat ini sudah menyeluruh. Mulai dari para pemimpin bangsa (pejabat). Setidaknya kita bisa melihat bagaimana kisah anggota DPR tahun 2006, Yahya Zaini yang terlibat video mesum dengan Maria Eva salah seorang penyanyi. Kemudian pada tahun 2008muncul kasus Max Moein yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap sekretaris pribadinya, Desy Firdiyanti. Tak berselang berapa tahun kita kembali dihebohkan dengan kasus Arfinto yang ketangkap basah mengakses video porno sewaktu sidang paripurna berlangsung. Beberapa bulan kemarin kita digemparkan lagi dengan video porno salah seorang yang mirip anggota DPR komisi IX.  Dan yang lebih anehnya lagi ada beberapa kasus yang sudah sangat jelas merusak moral bangsa malah mendapatkan legitimasi dari pihak Badan Kehormatan (BK) DPR, seperti kasus mabuk-mabukan. Hal ini senada dengan pernyataan anggota BK, Nudirman Munir bahwa mabuk-mabukan ‘tidak melanggar peraturan’ dan tidak dapat dikenai sanksi selama ia tidak mengganggu kepentingan umum. Sungguh sebuah keganjilan yang dinilai suatu kewajaran dan mendapatkan legitimasi sebagai sebuah keabsahan.
Nah, tentang dekadensi moral rakyat Indonesia yang telah dipaparkan di atas, kini telah menimpa juga sebagian pelajar Indonesia yang ada di Mesir, meskipun tidak sampai pada taraf pemakaian narkoba dan miras, namun pengaruh internet yang demikian luas penggunaannya dan virus westernisasi yang melanda para pelajar Indonesia yang ada di Mesir menjadikan sebagian krisis identitas, dan menyebabkan permasalahan ini sudah mencapai taraf memprihatinkan. Sebab  para pelajar Indonesia Mesir yang notabenenya kuliyah di Universitas Al Azhar, salah satu Universitas ternama di dunia dengan mengeluarkan banyak ulama dan pakar ilmu pengetahuan diberbagai bidang agama sekarang menampikan penampilan yang sungguh sangat tidak pantas sebagai seorang pelajar yang mengambil jurusan agama, dan hal seperti ini bisa kita jumpai dikeseharian kita di bumi para nabi ini. Semisal perempuan dengan pakaian ketat, celana jeans ala lelaki, pacaran, dan bahkan sampai nginap di rumah lawan jenis yang bukan mahram sudah tidak lagi menjadi hal tabu bagi sebagian pelajar Indonesia yang ada di Mesir. Semuanya terasa seperti biasa, bahkan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dengan apa yang telah dilakukan. Jadi sangat benar apa yang dikatakan Rasulullah SAW, jika nantinya akan datang satu masa dimana wanita seperti lelaki dan lelaki seperti wanita.
Problematika inilah yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya dikalangan pelajar Indonesia yang ada di Mesir. Dan penulis sendiri bingung dengan hal seperti ini, sebab penulis merasa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan yang mereka sadari. Karena pelajar yang kita ketahui bersama adalah mereka yang terpelajar dan berpendidikan, yang bisa membedakan mana hal yang salah dan mana yang seharusnya mereka lakukan. Namun sayang, lagi – lagi melihat kembali realita yang terjadi sekarang tentang problematika pelajar dalam masalah moral, membuat penulis hanya bisa bertanya – tanya, ada apa sebenarnya dengan pelajar Indonesia yang ada di Mesir?
Lain dari pada itu, dalam keseharian jika kita ingin menjadi seorang pelajar sesungguhnya walau hanya sesaat, kita bisa menemukan orang yang sama di tempat yang berbeda, yaitu mereka yang rajin ke kuliyah, rajin talaqqi dan sibuk di organisasi adalah orang – orang yang sama, yang berarti semuanya masih bisa dihitung dengan jari, nah dengan demikian para pelajar lainnya dimana? Padahal jumlah pelajar Indonesia yang ada di Mesir sekitar 2000 – 3000 orang.
Dalam menyikapi semua hal ini, sudah pasti kita harus mencari solusi yang nantinya bisa mengubah apa yang tengah melanda para pelajar, baik itu pelajar yang ada di Indonesia maupun pelajar Indonesia yang berada di Mesir. Terutama dalam masalah hubungan antara laki – laki dan perempuan (pacaran). Karena sangat ironis jika kita melihat realita yang terjadi dikalangan pelajar muslim dengan perkataan Allah SWT tentang ummat islam sebagai makhluk terbaik yang diciptakanNya.
Jawabannya dari semuanya hanya ada satu, kita harus bangkit dari keterpurukan ini.
Ingat! Kita ummat terbaik yang diciptkan Allah SWT.
Dimana perasaan kita, saat cinta Rasulullah SAW manusia yang berhati emas, berlautan budi, dan berperasaan dalam bisa tak berbalas??? Bagaimana mungkin kita mengabaikan cintanya yang begitu tulus?!! Sementara kita rela mencintai dan mengikuti budaya barat yang justru membuat kita semakin menambah ketidak jelasan hidup.
Sungguh, tidak ada yang bisa mengatasi dekadensi moral dikalangan pelajar kecuali kita kembali ke jalan yang seharusnya dilalui oleh seorang pelajar.




sumber : www.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates