Jumat, 21 Desember 2012

0 Gelotology : seseorang akan tertawa ketika melihat kesalahan





Sesekali coba anda pakai sempak anda di kepala, selanjutnya, berjalan-jalan ke tempat ramai seperti mall, pusat pemerintahan dan sejenisnya sambil loncat-loncat ala gangnam style. kalau perlu pakailah aksesoris tambahan yang memperkeruh penampilan anda seperti BH robek, sepatu boot warna warni dan dasi sepanjang dua kilometer. pokoknya macam-macam yang bikin orang bakal ngakak terguling-guling menyaksikan penampilan anda. Meski pada sisi lain, anda juga harus bersiap-siap karena aksi anda tidak akan dibiarkan lama oleh petugas keamanan setempat dan segera menggelandang anda ke pos satpam terdekat karena dicurigai sebagai gila alias gendheng.
Anda juga sesungguhnya masih berhak mempertahankan diri sebagai orang waras di hadapan petugas dengan berkata begini, pak saya tadi sedang melawak (bikin humor), tiada lain niat saya hanya satu, bikin orang banyak tertawa. sebab, yang anda lakukan adalah memang humor yg sebenar2nya humor. dalam sebuah study psikology, ilmu khusus yg mempelajari tawa seseorang disebut gelotology, terdpat satu dari tiga teori yg menjelaskan mengapa manusia itu tertawa. salah satu adalah jenis2 kenyolan seperti yg barusan anda lakukan di atas, yg termasuk dalam superiority theory. yakni sebuah teori yg menjelaskan bahwa seseorang akan tertawa ketika melihat kesalahan atau ketidak beruntungan seseorang (focuses on laughter that arises at someone else’s mistake or misfortune)
teori serupa juga pernah di tulis oleh jalaludin rachmat dalam bukunya retorika modern. Teori superioritas dan degradasi yakni Kita tertawa bila menyaksikan sesuatu yang janggal atau kekeliruan atau cacat (kata Aritoteles). Objek yang membuat kita tertawa adalah objek yang ganjil, aneh, menyimpang.kita tertawa karena tidak mempunyai sifat-sifat objek yang menggelikan. Sebagai subjek kita mempunyai kelebihan (superioritas), sedangkan objek tertewa kita mempunyai sifat-sifat yang rendah. contohnya ya jenis kenyololan dan kebodohan yg anda lakukan di atas. hal itu tampak ganjil dan rendah di mata orang2 maka mereka tertawa. pun demikian anda tetap boleh bangga karena telah berhasil melakukan humor dan membuat orang2 tertawa.
teori lainya adalah, teori bisosiasi. yakni, Kita tertawa, abila secara tiba-tiba kita menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya.teori ini yg diadopsi oleh humor jenis stand up comedy. dalam stand up commedy, sang pelawak biasanya menyampaikan dialog2 yg membut penonton tersadar bahawa konsep yg disampaikan betentangan dengnan realitas. maka orang tetawa. ya intinya, teori jenis ini biasanya disampaikan melalui penyampaian dialog2 baik secara lisan atau tulisan keteimbang ulah2 konyol secara fisik.
selanjutnya ada teori Pelepasan Inhibisi. ini adalah teori yang paling “teoritis”, sehingga tidak begitu banyak manfaatnya buat seperti namanya, pelepasan inhibisi, semacam melepas beban. teori ini pertama kali dikemukakan sigmund freud. menurutnya, orang2 akan tertawa ketika senang. ya seprti misalnya baru saja melewati bahaya berupa gerombolan anjing liar, maka orang tersebut akan senang dan tertawa.
dari ketiga teori diaatas yg paling sering digunakan untuk kepentinga humor adalah teori superioritas dan teori bisosiasi. dalam prakteknya, humor2 yg berdasar pda teori superioritas kerap dianggap sebagai humor murahan dan menjijikan dan tidak bermutu. sebab untuk menciptkan humor jenis tersbeut tak butuh banyak kreativitas dan kecerdasan, hanya satu, yakni bertingkah bodoh. meski demikian, humor jenis superioritas tsb masih dianggap paling populer karena mudah ditereima oleh setiap kalangan. dari anak2 hingga orang tua, kaya miskin dll. lihat saja, bahkan anak2 bisa ngakak ketika ajiz gagap mengenakan sempak di kepala pada sebuah acara lawak sambil pura2 terpeleset. atau bagaimana anda dengan mudah ikut2an ngakak ketika melihat orang yg ngakak2 sendiri meski tidak lucu. itu sebenarnya anda sedang menertawai tingkah bodoh seseorang tersebut. meskipun tidak menutup kemungkinan anda jadi ikut2an bodoh gara2 itu.
sedang humor dengan teori bisosiasi bisanya membutuhkan tingkat intelejensia yg lebih tinggi dalam menyusun kreativitasnya. bahkan, ada orang2 yg tak tertawa ketika mendpati humor dengan teori bisosiasi ini, karena butuh beberapa waktu bagi otak mereka untuk mencerna materi humor tsb. seperti tulisan saya ini. meskipun tidak saya letak di kanal humor, seharusnya bisa mmbuat anda tertawa. tapi kalau pun ternyata anda tidak tertawa, anda tidak salah. hanya mungkin kecerdasan anda perlu ditingkatkan barang sedikit saja.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates