Senin, 05 November 2012

0 PEMIMPIN DAN KETOKOHAN ATAU KESOMBONGAN




Ketokohan berasal dari kata tokoh, yang artinya pemimpin yg baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya , jadi dalam kata “ketokohan”yang bera wal dari kata “ke” dengan akhiran “an” dapat didefinisikan seseorang yang mengakui/diakui dirinya memiliki sifat teladan dan dapat dijadikan contoh.
Namun seiring perubahan zaman “ketokohan” sudah diidentikan dengan seseorang atau individu yang memiliki sifat berpengaruh atau disegani karena kesenioritasan,strata social,kepandaian,ataupun pengaruh keluarga. Hal ini merupakan akibat dari munculnya sifat yang merasa ia lebih disegani atau berpengaruh dari orang lain ataupun bawahannya yang dalam bahasa modern disebut dengan “jaim” (jaga image) namun apakah ketokokohan yang dimaksud sudah tepat diterapkan untuk orang-orang yang merasa dirinya adalah tokoh?
Seperti kata diatas tokoh adalah orang yang dapat dijadikan contoh atau diteladani dan menguntungkan orang lain lebih mengarah kehal positif jika acuan dalam kamus besar bahasa Indonesia. Dan jika ketokohan diterepkan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah tokoh, sudah benarkah mereka melakukan sesuatu yang dapat dijadikan contoh oleh orang lain?seperti contoh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang memiliki kuasa dan berperngaruh pada kalangan masyarakat hingga ia menerapkan ketokohannya namun dibelakang ia tidak lain adalah seorang /kumpulan kerah putih,maling,perampok dan pecandu narkoba atau seks haram, ini bukanlah tokoh dan tidak pantas untuk menerapkan sifat ketokohannya karena “sama sekali tidak berguna untuk orang lain”
Jadi sediakanlah kaca yang besar untuk melihat bersih atau kotor sifat “anda” sebelum anda menerapkan kata yang begitu sakral yaitu ketokohan, apakah anda pantas untuk disebut tokoh (tidak memiliki tujuan kepentingan diri melainkan kelompok dalam hal positif) atau anda hanyalah satu dari beberapa orang yang hanya berkamuflase menerapkan ketokohan agar mendapat wibawa dari kalangan bawah ataupun sederajad dengan anda. Kalau memang pantas ketokohan diterapkan pada diri “anda” apakah anda “sudah menguntungkan bagi orang lain”? atau apakah orang lain “merasa bahwa dengan adanya anda maka dirinya akan untung”? atau jangan-jangan orang lain menghargai ketokohan anda karena strata sosial pada anda.
Jadi point pentingnya untuk “orang-orang yang merasa perlu menerapkan ketokohan pada dirinya” harus dapat mengetahui apakah orang lain merasa diuntungkan oleh anda?, apakah anda sudah melakukan hal yang menguntungkan orang lain? Apakah kebaikan yang anda lakukan sama sekali tidak berdasar pada kepentingan diri anda semata? Apakah anda menerapkan ketokohan demi terwujudnya kebaikan bersama (bukan kebaikan hanya pada diri anda)? Dan apakah itu semua karena Allah?
Jika beberapa aspek itu tak dapat anda jawab namun bersikukuh untuk tetap menerapkan ketokohan maka lekaslah buang secepatnya karena ketokohan tidak dapat dibawa mati dan justru menghancurkan anda.
Dan perlu anda ketahui bahwa “ketokohan” sangatlah berbeda dengan “sombong”,
Sekarang mulailah berkaca, apakah anda menerapkan ketokohan atau kesombongan????????????

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates