Senin, 05 November 2012

0 PEMIMPIN DALAM PANDANGAN ISLAM




Kali ini mencoba untuk menulis serius *walau nggak serius2 amat :)
Sudah lama ingin berkomentar tentang sebuah kepemimpinan
Beberapa hari lalu banyak mendengar dan membaca tentang ‘ketokohan’ maupun ‘kepemimpinan’
Mungkin dalam hal ini saya ingin berceloteh secara deduksi  yaitu dari umum ke khusus.
Dimulai dari pertanyaan “ kenapa para kaum lelaki tidak mau atau malah tidak ada motivasi untuk memimpin?”
Bukankah dalam Al-Qur’an lelaki itu jelas-jelas diberikan kelebihan khusus dari Allah untuk memimpin, siapa yang menganggap rasulullah sebagai teladan, harusnya mau mencontoh rasulullah yang seorang pemimpin besar.
Al- Qur’an membicarakan aspek kepemimpinan (imamah), Al Qur’an menyentuh konsep amanah dan tanggung jawab dalam semua urusan baik sosial ekonomi maupun politik. Al- Qur’an menyentuh konsep syuro’dalam urusan umat demi tercapainya kebaikan universal.
Banyak muslim kehilangan motivasi untuk memimpin. padahal ingin berharap kepada siapa lagi ?? agak riskan dan pusing jika membicarakan tentang konsep ketokohan. Sibuk2 mencari tokoh, sedangkan dirinya sendiri gimana? Heloooo.
Oke oke, kembali ke bahasan awal  tenaaang  *tarik nafas hembuskan
Pemimpin dalam dakwah sangat dibutuhkan, rasulullah adalah pemimpin dan membawa misi perbaikan dalam dimensi kehidupan masyarakat. Dalam Q.S Ali Imran ;110 maka inilah makna ukhrijat linnas dalam doktrin dasar khairu ummah :
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah.
Tapi akhir- akhir ini disibukkan dengan krisisnya suatu kepemimpinan, sudah saya bilang ini tidak mengeneralisir seluruh Indonesia tapi ini adalah hasil pengamatan disekitar, nanti saya jelaskan secara khusus. Sebelum itu coba mencermati perkataan Dr.Yusuf Qardhawi dalam sebuah buku :
Merendahkan harga diri bangsa adalah kemungkaran, berlaku curang dalam pemilihan umum adalah kemungkaran. Enggan memberikan suara (kesaksian) dalam pemilu adalah kemungkaran. Menyerahkan urusan kepada orang yang tidak kompetensi adalah kemungkaran
Banyak muslim (ikhwan/lelaki) menyerahkan sebuah kepemimpinan kepada orang tidak lebih baik kepahamannya begitu saja, tidak ada motivasi untuk memimpin. Bukankah itu tidak baik??
Baiklah, bahasan kali ini akan saya kerucutkan.
Lingkungan saya dijumpai banyak muslim kehilangan motivasi untuk memimpin, setidaknya semangat itu harusnya ada. Sungguh berbeda ketika saya melihat ikhwa* di pulau seberang, mereka tidak malu untuk menuliskan impian mereka menjadi seorang pemimpin di kampusnya, itu ditulisnya sebagai suatu keberhasilan hidup. Ya kenapa motivasi di lingkungan ini sangat kurang, apakah tidak sekelas kampus di pulau seberang, tapi kurasa tidak terlalu beda karena sumatera ini juga potensial. Hey kita orang sumatera buatlah suatu kesempatan.
Tercengang melihat target-target orang jika memiliki motivasi tinggi tersebut, harusnya muslim itu memang pede. Mungkin ada saja yang takut dibilang ujub maupun sombong atau dnanti dikira terlalu berobsesi memimpin tapi menurut saya itu tidaklah salah apalagi ia memiliki pemahaman islam yang baik, bahkan sungguh baik jika qudwahnya adalah rasulullah saw.
Masalah terpilih memimpin atau tidak itu serahkan kepada Allah swt, bukankan tugas manusia berusaha , ketika melihat blog seseorang ada catatan “ gagal menjadi presiden …..” lalu “berhasil menjadi ketua Mahasiswa….”.
Disana tertulis kegagalan dan keberhasilan tapi terlihat sekali ada suatu kesyukuran disana, berarti ada usaha disana, tidak ada kata malu untuk sebuah impian.toh yang mengeksekusi akhir Mimpi itu Allah.  firman Allah :
keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah ………………………….. (Q.S Yusuf: 40)
baiklah, kembali ke keadaan lingkungan yang mencari-cari tokoh sibuk mencari tokoh untuk memimpin, teringat 3 tahun lalu ketika saya masih unyu2 di kampus *sok unyu :p  ketika itu disajikan sebuah pelajaran, seseorang  yang hampir menyelesaikan studinya dipanggil kembali untuk menjadi “pemimpin” dan ternyata dia ridho, mungkin itulah pengorbanan, ternyata terlihat sekarang ia menjadi mahasiswa S2 di kampus terkenal di pulau seberang. Itu hanyalah sedikit dinamika, sedangkan kampus di pulau seberang memang malah dijatahkan 1 tahun khusus untuk sebuah “kepemimpinan”, mereka adalah orang-orang memiliki ‘visi’ dalam hidupnya.
Kepemimpinan adalah sebuah amanah, bukan hal yang mudah memang tapi bukan juga sebuah keniscayaan kan ?  Saya pernah mendengar cerita bahwa ada seseorang yang saat itu ia terpilih menduduki suatu jabatan ’pemimpin’, tapi apa yang terjadi? ketika ia terpilih, saat itu juga ia kabur dari TKP , tidak mau kembali lagi dan sulit dihubungi pada hari itu. Nah loh semua jadi bingung katanya. wah2 itulah kalo shock tidak ada sama sekali motivasi untuk memimpin. Saya pun senyum2 denger cerita tersebut, sempat terfikir ‘jangan-jangan jika akad nikah nanti malah kabur juga, kan susah #ooppss’ ^_^
tapi ternyata hanya itu ekspresi shock saja dan ternyata dia baik ‘memimpin’ kedepannya. Maka sebaiknya setiap muslim yang sholeh itu mempersiapkan dirinya untuk jadi pemimpin.
Saat terpilih maupun kepilih jadi ‘pemimpin’ terus gantungkan harapan kepada Rabb semesta Alam dan raihlah kepercayaan manusia.
Oke sekian dulu suatu celoteh di malam ini, semoga saja tidak ada perdebatan lagi tentang mencari tokoh, tapi ‘pemimpin2’ itu bermunculan dengan tegas dan lantang menyatakan kesediaan. Aaamiiin #hope
Saya sangat sadar saya hanyalah penonton dan bukan pemain maka saya akan menjadi penonton yang baik dan terus mendo’akan, ar-rijal (lelaki) sangat utama untuk “mimpin”.
eh muslimah itu juga akan jadi pemimpin loohh. Hhe. pemimpin terbaik bagi anak-anaknya kelak.




sumber ; fath_az’90

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates