Sabtu, 27 Oktober 2012

0 PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK GENERASI EMAS INDONESIA



Sejatinya, kebudayaan memang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan. Demikian pula sebaliknya, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Ibarat dua keping mata uang, yang satu dengan yang lainnya memiliki makna dan nilai yang sama, tidak bisa dipisahkan karena di dalam proses pendidikan ada penanaman nilai-nilai budaya menyertainya. Sudah tentu tambahan amanah ini jangan diartikan sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk menyempurnakan dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Foto

Hari pendidikan telah kita peringati tanggal 2 Mei kemarin. Namun, ada yang berbeda pada peringatan hari pendidikan kali ini, yaitu, pemerintah menjadikannya momentum untuk mencetak generasi emas guna menyongsong seabad kemerdekaan negara ini pada tahun 2045 mendatang.
Sebagaimana dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam rentang tahun 2010 2035, Indonesia mendapatkan berkah demografi. Pada tahun 2010 penduduk Indonesia dalam rentang usia 0-9 tahun mencapai 45.9 juta, sementara usia 11-19 tahun mencapai 43.55 juta. Artinya, dalam rentang tahun 2010-2035 jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif sangat melimpah. Merekalah yang bakal menjadi generasi penerus bangsa ini, menjadi pemimpin. Dan ini, menjadi berkah tersendiri bagi negara ini. Lalu, apakah yang harus dilakukan? Bagaimana kita bisa memetik manfaat dari berkah demografi ini?
Satu hal yang tak bisa ditawar-tawar adalah pendidikan. Kita meyakini bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang tak ternilai. Dan, Kemendibud mengatakan bahwa pendidikan bagi generasi emas ini harus dimulai dari level paling bawah, yaitu PAUD. Anak-anak usia dini sudah harus mulai merasakan bangku pendidikan entah dalam bentuk kelompok belajar atau taman kanak-kanak. Selain itu dikatakan pula bahwa proses penyemaian generasi emas ini akan dibarengi dengan dibukanya akses seluas-luasnya kepada anak-anak untuk masuk sekolah, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Langkah ini akan dibarengi dengan perbaikan sekolah-sekolah rusak sehingga jumlah sekolah mampu menampung jumlah siswa yang begitu membludak.
Pastinya, rencana ini bukan sebuah rencana jangka pendek yang pagi ditanam sore dipanen. Pendidikan adalah sebuah proses panjang. Namun, kita tetap berharap bahwa rencana ini bukan hanya dilontarkan dalam rangkan menyambut momentum hari pendidikan nasional, namun sebuah rencana yang benar-benar digarap secara serius. Maklum, negara ini masih saja dihinggapi dengan penyakit indah di kata merana di realita. Seringkali, rencana tak sejalan dengan kenyataannya.
Butuh lebih dari sentuhan sekolah
Menyemai generasi emas ibarat menabur benih tanaman. Jika ingin memperoleh hasil panen yang maksimal, setiap hari kita harus rutin menyiraminya. Kita pun tak boleh luput untuk membersihkannya dari gangguan rumput-rumput yang tumbuh disekitarnya. Jika perlu, kita pun harus memberikan pupuk secara rutin sehingga tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik. Begitupun dengan proses merawat generasi emas yang kita gadang-gadang akan menjadi calon pemimpin negara ini pada masa depan nanti.
Pendidikan memang menjadi salah satu kunci yang tak boleh ditawar-tawar. Meski begitu, kita juga harus aktif membersihkan adanya potensi-potensi gangguan dari pihak luar, misalnya saja media televisi. Bukan rahasia lagi bahwa masih banyak program-program layar televisi kita yang tak layak konsumsi bagi anak-anak. Tayangan-tayangan kekerasan masih sering kita temukan. Begitu juga dengan film-film yang hanya menampilkan contoh budaya hura-hura, konsumtif, dan hedonis. Anak-anak adalah konsumen tayangan televisi paling aktif. Jika setiap hari mereka dijejali dengan tayangan-tayangan seperti itu, bukan tidak mungkin nilai itu akan melekat dan berkembang menjadi nilai hidup mereka, yang ujung-ujungnya akan menjadikan mereka sebagai sosok yang konsumtif, hedonis, opportunis. Maukah kita mendapat pemimpin yang seperti ini?
Yang tak kalah penting lagi pastinya adalah contoh pola kepemimpinan hari ini. Generasi emas kita saat ini sedang dalam proses belajar, mengamati, dan berfikir, terhadap segala apa yang terjadi disekitar mereka. Dan, kepemimpinan hari ini bukan tidak mungkin menjadi salah satu objek sasarannya. Artinya, realitas kepemimpinan hari ini bukan tidak mungkin akan terekam dan menjadi karakter kepemimpinan di masa yang akan datang.
Bangku sekolah adalah tempat dimana anak-anak banyak menerima teori, sementara lingkungan luar sekolah adalah realita dimana teori itu terejawantahkan. Artinya, ideal-ideal teori yang diterima lewat pendidikan sekolah harusnya berjalan beriringan dengan fakta realitas. Jika tidak, akan terjadi perang batin tarik ulur antara teori dan realita. Dan, sebagaimana kita lihat, realita selalu menjadi pemenangnya. Artinya, butuh lebih dari sentuhan bangku sekolah untuk menyemai generasi (yang benar-benar) emas. Berkah demografi ini harus benar-benar kita rawat secara baik agar tak menjadi bencana demografi

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates