Senin, 15 Oktober 2012

0 Mencegah Rasa Minder pada Anak Sejak Usia Dini






KEBUTUHAN anak untuk berinteraksi dengan sesama teman tidak dapat dielakkan lagi, karena manusia sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari

Anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya tentu membutuhkan interaksi dengan lingkungannya, baik di rumah, sekolah atau di lingkungan bermainnya. Namun, dalam proses interaksi tersebut, terkadang anak juga mengalami minder, takut, atau tidak pede.

Hal ini biasanya terjadi karena anak merasa ada hal yang kurang dalam dirinya. Entah karena merasa kurang pintar, tidak sempurna fisiknya atau tidak memiliki barang atau benda seperti yang dimiliki temannya.
"Minder yang muncul dalam diri anak, terjadi karena pikiran bahwa dirinya merasa tidak mampu atau tidak berdaya terus tumbuh, terbentuk dan tertanam dalam dirinya," ungkap Falasifatul Falah, S.Psi, M.A., pengajar di Fakultas Psikologi Unissula Semarang.

Lingkungan memiliki andil di dalam mencetus sikap minder tersebut. "Bahkan, minder bisa dialami dari pengalaman khusus yang dialami oleh anak-anak, melalui orangtua, keluarga, guru, teman sekolah, teman dekat atau media massa," imbuh Neneng, demikian ia akrab disapa.

Perasaan minder yang terbawa sejak masa kanak-kanak dan tidak bisa diatasi, serta dibiarkan terbawa hingga dewasa, bisa berakibat mematikan potensi yang dimiliki anak, sehingga tidak berkembang secara optimal. "Anak tidak akan menyadari bahwa ia sebetulnya mampu dan bisa. Tentu saja itu bisa mempengaruhi perjalanan hidupnya di masa depan," jelasnya.

Pola Asuh Demokratis
Tuhan membekali setiap anak dengan potensi dan kemampuan untuk berkembang menjadi lebih baik. Disinilah dibutuhkan peran orangtua juga guru di sekolah untuk membantu mengatasi rasa minder pada anak dan memotivasi mereka untuk lebih percaya diri. Orangtua dan guru sebaiknya tidak terlalu over-protektif.

Guru perlu dilibatkan dalam mengajarkan anak agar tidak minder, karena ternyata lingkungan sekolah bisa menjadi salah satu faktor pemicu anak merasa minder. Misalnya teman-teman yang suka mengolok-olok dan mencela, guru yang suka membanding-bandingkan murid. "Orangtua dan guru harus bersinergi mengupayakan lingkungan yang terbaik bagi perkembangan psikologis anak," ungkap Neneng.

"Biarkan saja anak mengalami pengalamannya," jelas Neneng. Anak harus diberi kesempatan mengeksplorasi dunianya dan merasakan bahwa ia memiliki potensi untuk berkembang menjadi anak yang berani dan percaya diri, tambahnya lagi. Ajarkan pada anak melalui pesan verbal (secara langsung) bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam paket yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

"Dan orangtua juga harus konsekuen untuk tidak mencela atau merendahkan kekurangan orang lain, dan tidak memuja suatu kelebihan secara berlebihan," tandas Neneng bijak. Sebaiknya orangtua atau guru bisa membantu dengan menunjukkan sikap, "Ok, mari kita sama-sama berusaha memperbaiki kekuranganmu itu, papa mama juga bapak ibu guru di sekolah tentu akan membantumu," imbuhnya.

Sekalipun kekurangan itu ternyata sulit atau tidak bisa diperbaiki, tetaplah mendukung anak, "Kamu tetap manusia yang berharga. Papa mama juga bapak ibu gurumu akan tetap sayang kamu," dengan demikian anak akan merasa aman secara psikologis. "Psychological security ini akan sangat mempengaruhi kepercayaan diri anak," imbuhnya.

Menerapkan pola asuh demokratis sangat diperlukan dalam memberikan kebebasan pada anak untuk mengeksplorasi dunia, mengalami dan merasakan pengalamannya sendiri. Orangtua tak perlu mengatur, mengintervensi, juga melindungi secara berlebihan. "Kemampuan mereka akan berkembang dengan baik jika anak diberi kesempatan," tandasnya. Yang penting jangan pelit pujian dan jangan mengumbar kritik apalagi celaan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates