Rabu, 10 Oktober 2012

0 Guru Sebagai Pendidik dan juga Orang Tua Kedua


Secara umum pendidikan berarti suatu proses transformasi yang dilakukan seseorang atau masyarakat ke generasi berikutnya, serta dilaksanakan secara sengaja, teratur, terstruktur dan dapat diukur atau diketahui hasilnya. Generasi berikut mendapat pendidikan secara formal dan informal, sehingga mereka bertumbuh secara intelektual, pengalaman keagamaan, serta memiliki sikap hidup yang baik.




         


Pendidikan merupakan usaha untuk memperlengkapi dan membimbing individu maupun kelompok, agar menjalankan tugas dan panggilan hidupnya secara efektif.
Pendidikan bertugas untuk membangun kualitas manusia seutuhnya, serta segi-segi kehidupan fisik, intelek, moral, spiritual, dan sosio-kultural individu dan kelompok. Bangsa dan masyarakat Indonesia, juga ingin generasi berikutnya mengalami kemajuan pada semua aspek. Pendidikan juga merupakan suatu proses untuk membentuk - menjadikan seseorang berubah; misalnya, menjadi lebih pintar, lebih teratur, lebih disiping, dan lain sebagainya.
Pada proses pendidikan (formal maupun informal) tersebut, ada yang bertugas sebagai guru dan berfungsi untuk mengajar. Guru merupakan komponen strategis dalam dunia pendidikan. Tugas dan perannya bukan hanya di sekolah atau kelas tetapi lebih luas serta kompleks, meliputi :
  • pada bidang profesi, guru bertugas mendidik, mengajar, dan melatih; mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup; mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan iptek; melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan siswa

  • dalam bidang kemanusiaan, di sekolah, guru berperan sebagai orang tua kedua, yang memberi dan membangun motivasi murid-muridnya untuk belajar serta menambah wawasan dalam berbagai hal

  • dalam bidang kemasyarakatan, guru bertugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik serta bertanggung jawab
Karena juga merupakan orang tua kedua, guru bisa juga (harusnya!?) memberlakukan setiap siswa seabagai anaknya sendiri. Karena hubungan sebagai anak-orang tua itu, guru dapat berperan lebih luas, misalnya sebagai seorang pendamping dalam berbagai pergumulan dan permasalahan yang ada pada diri siswa.
Pendampingan itu bertujuan agar siswa mampu mengatasi pergumulan dan permasalahannya. Dalam konteks ini, guru dapat berlaku sebagaisahabat curhatteman penopang, kawan pemberi solusi, atau bahkan pribadi ( yang menyenangkan) yang mau mendengar suara dan isi hati anak didiknya.
Untuk mencapai model guru seperti itu (seperti orang tua kedua), ia (sang guru tersebut), tentu saja juga harus melalui - mengalami proses pendidikan (persiapan) menjadi seorang guru atau pun pendidik. Melaui proses itu, diharapkan menjadi guru yang berkualitas, dengan berbagai kopentensi; termasuk di dalamnya, beberapa hal berikut
  • mempunyai spiritualitas yang baik; spritualitas yang berkaitan erat dengan hal-hal yang berasal atau bersumber dari Tuhan

  • mempunyai kelengkapan pengetahuan teologis, keguruan, dan trampil mengajar

  • terus menerus belajar untuk meningkatkan diri, termasuk kemampuan memahami bidang studi yang ia ajarkan dan masalah manusia dan kemanuisaannya

  • terus menerus meningkatkan kemampuan agar semakin mampu mengelola proses belajar-mengajar serta memberikan layanan yang terbaik untuk orang lain atau kepada peserta didik

  • dan lain-lain
Semua hal di atas dapat menjadi acuan bahwa pentingnya peran guru pada/dalam konteks masyarakat sekarang. Juga nyata bahwa guru dapat berperan yang lebih besar lagi dalam proses belajar dan mengajar, sehingga interaksi dengan siswanya bukan hanya ketika di ruang kelas tetapi juga pada keaktifan hidup lainnya.
Interaksi itu menjadikan guru dapat mengenal kemampuan serta minat, tingkat perkembangan, kekuatan dan pengalaman muridnya, sehingga ia dapat membimbing mereka dengan baik. Semuanya itu menjadikan guru juga berfungsi sebagai orang tua untuk anak-anak didiknya.





0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates