Meutia Hatta : Jangan Minder Menjadi Bangsa Indonesia

Radian Nyi Sukmasari
“Para pendiri negara, termasuk Bung Hatta mengatakan bahwa kita tidak boleh minder. Kita setara dengan bangsa lain. Bung Karno dan Bung Hatta juga berkata bahwa kita harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Hal itu sudah diimplementasikan melaluli UUD pasal 33. Tapi saat ini, justru karena rasa minder, bangsa kita didominasi oleh pihak asing.”
Pernyataan itu diutarakan putri mantan wakil presiden Indonesia pertama , Mohammad Hatta, Prof. Dr. Meutia Hatta, saat ditemui wartawan wartakotalive.com di kediaman mendiang ayahnya di Jalan Diponegoro No. 57 Jakarta Pusat, Kamis (16/8/2012).
Menurut Meutia, rasa minder masih menjadi permasalahan bangsa Indonesia saat ini. Salah satu contoh misalnya, menurut Meutia, masih banyak pejabat daerah yang “takut” dengan investor asing. Hal ini menyebabkan kekayaan alam di beberapa daerah pun dikuasai oleh pihak asing.
Oleh karena itu, untuk menghilangkan rasa minder tersebut, perlu adanya pelatihan pada anak muda guna menanamkan pada dirinya bahwa mereka tidak boleh minder. Selain itu, penanaman rasa tidak minder juga bisa dilakukan melalui pendidikan, yaitu menanamkan rasa bangga pada anak muda terhadap kekayaan alam yang ada di Indonesia.
“Di sekolah, guru bisa menjelaskan mengenai keadaan geografis Indonesia, termasuk mineral dan flora yang ada di dalamnya. Semua dijelaskan secara detail dan diajarkan melalui peta. Hasil tambang, mineral, dan flora Indonesia itu tersebar di mana saja. Dengan begitu, akan muncul rasa ingin tahu terhadap kekayaan yang dimiliki negaranya dan otomatis kecintaan pada tanah air akan ada serta muncul rasa ingin mengembangkan kekayaan-kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia,” jelas wanita yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang pendidikan dan kebudayaan ini.
Dibutuhkan pula kepedulian bangsa Indonesia terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan Indonesia adalah negara kepulauan yang potensi terpecahnya lebih besar. “Oleh karena itu rakyat harus cinta pada tanah airnya, dengan cinta pada tanah air ia akan lebih tanggap terhadap keadaan di sekitarnya, termasuk bahaya yang mengancam persatuan di Indonesia. Jangan jadi orang yang tidak peduli pada lingkungan sekitar,” kata Meutia.
“Intinya supaya tidak rendah diri atau minder, perlu adanya kebersamaan dan persatuan di diri rakyat Indonesia,” imbuhnya.
Saat ditanya mengenai bagaimana kondisi Indonesia di usianya yang ke-67, wanita yang hobi fotografi ini mengatakan, “Alhamdulillah tetap merdeka tetapi permasalahannya adalah apakah rakyat sudah terlindungi dan lebih sejahtera,” katanya.
Seperti penuturan Meutia, sebagian rakyat memang sudah ada yang sejahtera, misalnya saja dulu pada zaman penjajahan, sekolah hanya diperuntukkan bagi bangsawan. Sekarang, semua orang bisa bersekolah. Kesempatan bagi perempuan pun lebih besar. Mereka sudah bisa bekerja, tidak hanya di rumah saja.
“Indonesia sudah banyak gedung-gedung bertingkat, ilmu pengetahuan dan teknologi informasinya pun sudah maju, tapi karena minder itu tadi kita masih didominasi oleh asing. Di samping itu juga, korupsi makin merajalela terutama di pemerintahan seperti kasus korupsi yang melibatkan bupati, walikota, dan anggota DPR,” tutur Meutia.
Dengan memasuki kemerdekaan yang ke-67, wanita kelahiran Yogya 65 tahun ini berharap kemiskinan di Indonesia bisa terus diberantas. Rakyat juga bisa diurus dengan baik, salah satunya dengan mengetahui apa sebenarnya kebutuhan mereka. Hal ini, seperti dituturkan Meutia, merupakan tugas kementerian di bidang yang terkait untuk melindungi rakyat.
“Kita harus saling menjaga kebersamaan dan persatuan bangsa. Jangan malas berpikir, tetaplah peduli pada bangsa dan senantiasa semangat untuk memajukan negara Indonesia. Rakyat harus dilindungi dan diperdayakan, dengan kearifan lokal masing-masing.” kata istri Prof. Dr. Sri Edi Swasono ini.
Terkait pembangunan di Indonesia, wanita bernama lengkap Meutia Farida Hatta Swasono ini menuturkan bahwa desain pembangunan ditentukan sendiri oleh rakyat Indonesia. Jika sistem perekonomian mengarah pada neoliberalisme, Meutia mengatakan jangan biarkan hal itu makin menjadi. Pasar juga bisa dikembangkan antarpulau. Teringat akan cerita sang ayah, Meutia menuturkan, saat menjabat sebagai wakil presiden, Bung Hatta berkata pada menteri Pekerjaan Umum ketika itu bahwa persatuan Indonesia harus dibangun lewat jembatan, dermaga, dan bandara.
“Sebagian besar pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia merupakan bikinan Belanda, mengapa kita tidak mencoba membangun pelabuhann-pelabuhan lainnya?” ujar putri pertama Bung Hatta ini. Apalagi, kondisi saat ini, Meutia mencontohkan, banyak buah-buahan yang diimpor dari luar, jika hal it uterus dilakukan, maka buah asli Indonesia, sebut saja pisang, lama-lama akan hilang. Contoh lainnya seperti tepung, di Indonesia terdapat beras, jagung, ubi, dan umbi-umbian lain yang dapat digunakan sebagai tepung. Kelapa sawit pun masih didominasi oleh pihak asing.
Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan tahun 2004-2009 ini berharap generasi muda bisa belajar sungguh-sungguh untuk dapat mengenal dan mencintai tanah air sendiri. Dengan mengenal dan mengetahui tanah airnya, generasi muda akan sayang pada tanah air. Rasa sayang itu dibutuhkan supaya mereka bisa menjaga bangsa dan tanah air Indonesia.
“Sama-sama pelihara multikulturaslime yang ada di Indonesia, dengan kearifan lokalnya, jangan jadikan kita sebagai bangsa yang lemah. Siapa tahu generasi muda saat ini, sepuluh sampai lima belas tahun mendatang jadi pejabat pemerintah atau anggota DPR. Maka nantinya mereka akan tahu bagaimana cara menjaga negaranya.” tutur ibu satu anak ini.
Selain itu, Meutia juga berharap generasi muda bisa terus belajar tentang tanah airnya, “karena tanah air kita ini kekuatannya di laut, maka kembangkanlah kekayaan maritim di Indonesia. Jadilah entrepreneurship dan belajar dengan baik. Kita itu punya banyak kekayaan alam terutama energinya, jadi jangan semuanya itu dikasih oleh pihak lain. Berdayakan yang ada di tanah air kita,” kata penggemar masakan ikan patin ini.
“Jangan minder menjadi bangsa Indonesia. Kalau sudah tidak minder, nantinya, anak-anak Indonesia pun akan berkata bahwa negara saya punya kekayan alam yang lebih banyak dari negara kamu,” ujar Meutia menutup pembicaraan.
0 komentar:
Posting Komentar