Jumat, 14 September 2012

0 Menghitung Kans Jokowi


Menghitung Kans Jokowi Untuk Menang: Analisa Pergeseran Perilaku Pemilih Di Jakarta


Bak sepakbola, Pilkada Jakarta putaran kedua semakin mendekati peluit panjang babak terakhir. Dua kandidat yang tersisa, yaitu Foke-Nara dan Jokowi-Ahok, seakan berlomba untuk meyakinkan hati rakyat agar memilihnya dalam putaran kedua, 20 September mendatang.
Di atas kertas buran politik, agak sulit kans Jokowi-Ahok untuk keluar sebagai pemenang. Sebab, seperti diketahui, lawan politiknya, Foke-Nara, didukung oleh sederetan koalisi partai-partai besar. Demokrat, sebagai pengusung utama dan ditambah dengan Partai Golkar, PPP, PAN, dan PKS.
Sementara Jokowi hanya didukung oleh dua Partai, yaitu PDI-P dan Partai Gerindra. Karenanya tak terlalu berlebihan bila Jokowi sering menganalogikan pertarungan dalam Pilkada Jakarta putaran kedua sebagai pertarungan Gajah vs Semut, atau pertarungan Koalisi Partai vs Koalisi Rakyat.
Namun, dengan mencermati hasil perolehan suara pada Pilkada Jakarta putaran pertama, maka ditemukan adanya pergeseran perilaku pemilih di DKI Jakarta. Sebagai contoh, yaitu pasangan Hidayat Nur Wahid (HNW)-Didik J Rachbini yang pada putaran pertama memperoleh suara sebesar 11,72 persen. Jika dilihat dari Partai pengusungnya, yaitu PKS dan PAN, seharusnya pasangan itu memperoleh suara sebesar 21,49 persen. Sebab, pada pemilu legislatif 2009 untuk wilayah DKI Jakarta, PKS memperoleh 17,32 persen, dan PAN mengantongi 4,17 persen suara.
Pergeseran perilaku pemilih juga bisa dilihat pada pasangan Alex Nurdin-Nono Sampono yang diusung oleh Golkar dan PPP. Perolehan suara Alex-Nono pada putaran pertama adalah sebesar 4,67 persen, lebih kecil daripada calon independen, Faisal-Biem. Di atas kertas seharusnya Alex-Nono memperoleh suara sebesar 11,62 persen suara. Dengan hitungan Golkar, pada pemilu legislatif 2009 di Jakarta, memperoleh 6,47 persen dan PPP memperoleh 5,15 persen.
Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Pasangan Jokowi-Ahok yang nota bene hanya didukung oleh 15,89 persen suara (PDI-P sebesar 10,74 dan Gerindra sebesar 5,16 persen) justru keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara sebesar 42,60 persen.
Kemenangan pasangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama, selain mempermalukan berbagai pengamat politik dan lembaga survei, juga memberi indikasi adanya pergeseran perilaku pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta periode 2012-2017. Pergeseran yang dimaksud adalah pemilih lebih cenderung untuk melihat figur ketimbang partai atau arahan mesin partai. Hal itu dibuktikan dengan berbagai analisa di atas dan kemenangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama silam.
Menurut Dennis Kavanagh dalam “Political Science and Political Behaviour”, perilaku pemilih umumnya dijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu sosiologis dan psikologis. Pendekatan sosiologis berasumsi berbagai faktor seperti; jenis kelamin, status ekonomi, kelas, tempat tinggal, dan agama. Beberapa faktor itu dapat mempengaruhi pilihan politik.
Sementara itu pendekatan psikologis lebih menekankan kepada faktor ikatan emosional terhadap partai atau identifikasi partai, persepsi terhadap kandidat, dan isu-isu politik yang menentukan perilaku pemilih.
Mencermati kemenangan Jokowi-Ahok di putaran pertama, maka dipastikan bahwa perilaku pemilih di Jakarta terbilang unik dibandingkan dengan daerah lainnya. Faktor agama, misalnya, di Jakarta tampaknya bukan menjadi soal yang besar bagi pemilih muslim untuk memilih Ahok -sebagai pasangan Jokowi- yang nota bene beragama Kristen. Sesuatu yang sangat sulit bagi pemilih di Jawa Barat.
Sementara itu, dari hasil survei Indo Barometer, yang berdasarkan hasil survei harian Kompas, Kamis, 13/09/2012 hal.27, M Qadari, Direktur Indo Barometer, memprediksi pasangan Jokowi-Ahok akan kembali unggul terhadap Foke-Nara. Hal itu berdasarkan tingkat elektabilitas Jokowi yang sebesar 45,13 persen berbanding 35,17 persen untuk Foke-Nara. (Solopos.com, Kamis 13/09/2012).
Meski demikian, M Qadari juga mengingatkan bahwa hitungan itu hanya bersifat sementara. Sebab, hasil itu bisa berubah menimbang jumlah sebesar 17,34 persen yang belum menentukan suara, suara golput pada putaran pertama sebesar 36,58 persen yang ada kemungkinan memutuskan memilih, dan suara pemilih calon lain yang tak lolos ke putaran kedua yang belum memutuskan memilih sebesar 24 persen.
Namun, jika mencermati perilaku pergeseran suara pemilih, di mana mereka lebih cenderung untuk memilih figur ketimbang partai, maka ada kemungkinan kans Jokowi untuk menang terbuka lebar, mengingat tingak elektabilitas Jokowi yang unggul atas Foke pada survei Indo Barometer, yang berdasarkan pada survei harian Kompas.
Jadi, siapkah Jakarta menerima kehadiran seorang Gubernur baru?.
Salam berang-berang.
Selamat menikmati hidangan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates