Sabtu, 01 September 2012

Menakar Peluang "Incumbent"

  • Oleh Munawar AM

DALAM pilkada Kabupaten Cilacap, 9 September 2012, Tatto Suwarto Pamuji, bupati saat ini, kembali mencalonkan diri, menggandeng Achmad Edi Susanto. Pengusungnya Partai Golkar, PAN, Hanura, dan PKPB.

Edi adalah sosok yang sama sekali baru bagi masyarakat Cilacap. Sebagai incumbent (petahana), Tatto memiliki peluang sekaligus tantangan.

Data Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Juni  2005-Desember 2006 menggambarkan, dari 230 kepala daerah yang kembali maju dalam pilkada, 143 (62.17%) di antaranya memenangi kontestasi itu. Hanya 87 orang (37,83%) yang kalah dari pesaingnya, yang bukan incumbent.

Fakta itu bisa menjadi rujukan betapa incumbent memiliki peluang kuat, utamanya di daerah. Popularitas dan elektabilitasnya menjadi faktor pendukung. Faktor pendukung lainnya adalah pengalaman politik, penguasaan jaringan hingga level paling bawah masyarakat, dan ruang kampanye yang lebih terbuka lewat kemasan program pemerintah. Peluang bertambah kuat jika mesin partai pengusung bekerja maksimal.

Masyarakat Cilacap tentu mengenal Tatto. Tapi siapa yang mengenal lebih dekat Achmad Edi Susanto, wakil yang digandengnya? Terkait elektabilitas, DPD Golkar Cilacap mengklaim hasil survei internal yang menyebut Tatto unggul 63,17% ketimbang rivalnya, Novita Wijayanti, yang menggandeng HM Muslich. Klaim ini sah karena partai harus optimistis, bisa meyakinkan konstituen dan masyarakat calon pemilih.

Popularitas incumbent sebenarnya sebangun dengan rivalnya, Novita-Muslich. Pasalnya Novita adalah kader PDIP sekaligus putri Fran Lukman. Siapa yang tidak mengenal Fran, politikus senior di Cilacap? Muslich juga bukan nama kosong karena sudah melanglang buana di Cilacap dengan jabatan terakhir sekda. Popularitasnya berarti mengungguli Edi. Pada titik ini, Tatto harus cermat berhitung mengambil strategi pemenangan.

Angka Golput

Incumbent didukung Partai Golkar, PAN, Partai Hanura, dan PKPB; sementara Novita-Muslich mendapat asupan energi suara yang secara kasat mata lebih unggul, mengingat PDIP didukung Partai Demokrat, PKB, PPP, Gerindra, dan partai nonparlemen lainnya. PKS ada di dalamnya; sebuah lompatan politik karena mendukung calon bupati perempuan.

Peluang Novita bertambah kuat jika mesin partai pengusung bekerja maksimal. Tapi Tatto pun memiliki peluang itu, ditambah ruang kampanye yang lebih terbuka lewat kemasan program pemerintah, semisal ”Bangga Mbangun Desa” yang menjadi jargonnya.

Kedua pasangan cabup-cawabup sama-sama optimistis memenangi pilkada dalam satu putaran (SM, 10/06/12), sebagaimana harapan masyarakat Cilacap. Namun, keduanya sama-sama menghadapi risiko tingginya angka golput, massa mengambang, tidak solidnya partai sebagai mesin politik, dan strategi pemenangan dengan cara-cara curang hingga politik uang.

Optimisme PDIP untuk mempertahankan status quo kekuasaan di Cilacap merupakan pemuncak pertaruhan politik Fran Lukman karena Novita adalah penerus kiprah politiknya, seperti halnya roh politik Megawati yang diturunkan kepada Puan Maharani.

Meskipun pada akhirnya ha-nya ada pilihan dua pasang cabup-cawabup, masyarakat Cilacap yang secara politik makin cerdas akan berhitung ikhwal status quo ini. Dalam pilihan politik, ada faktor like and dislike, bahkan dari anggota partai sekalipun. Jadi, Partai Golkar benar-benar mendapatkan peluang sekaligus tantangan untuk memenangkan incumbent. (10)


— Munawar Amin Ma’ruf, warga Cilacap

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates