Jakarta Harus Ditinjau Objektif
Nachrowi Ramli [antara]
[JAKARTA] Mantan
Kepala Badan Sandi Negara (BSN) yang kini maju sebagai calon Wakil Gubernur DKI
Jakarta, Nachrowi Ramli menyatakan kompleksitas permasalahan Jakarta tak
objektif sekedar ditinjau dari sisi negatif dan politis.
"Permasalahan itu juga harus seimbang jika ditinjau secara positif."Jika dilihat objektif, penilaian negatif dari permasalahan mengandung sisi positif untuk memacu semangat dan kraetifitas pemimpin dalam menata Jakarta ke arah yang lebih baik," kata Nachrowi yang akrab dengan sapaan Nara di Jakarta, Senin (3/9).
Apalagi penilaian negatif tentang hasil pembangunan yang telah dihasilkan pemerintah daerah sekarang ini bernuansa politis.
"Ini tak objektif lagi. Meskipun ada hasil positif akan selalu dinilai negatif. Jika kita melihat dari sisi negatif, tentu hasilnya akan selalu negatif," tegas Nara.
Dia menilai incumbent calon Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) punya komitmen menata Jakarta ke arah yang lebih baik. Foke punya semangat dan kreatifitas.
Penataan Jakarta dilakukan berdasarkan keseimbangan, misalnya pertambahan kendaraan bermotor dengan pertambahan jumlah jalan.
Nara mengatakan, kritik yang selalu diarahkan ke Fauzi Bowo sebagai gubernur yang tidak bisa juga mengatasi macet.
"Pak Foke sudah punya grand design mengenai mass rapid transportation. Tinggal dilaksanakan," ujar Nara.
Nara menyatakan aspek positif kemacetan adalah semakin banyak warga Jakarta yang memiliki kehidupan yang baik sehingga mampu memiliki kendaraan bermotor. Selain itu, kondisi ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya terdongkrak positif.
"Mungkin penjualan kendaraan bermotor terutama yang baru terus meningkat kalau situasinya tidak baik. Sisi ini yang selama ini tidak pernah dilihat masyarakat," ucap Nara.
Kemacetan, menurut Nara, disebabkan mobilitas masyarakat yang semakin tingg untuk berbagai kegiatan, seperti bekerja, sekedar jalan-jalan dan lain sebagainya. Mobilitas masyarakat yang tinggi ini juga menandakan bahwa kehidupan itu berjalan baik. Kehidupan berjalan artinya harus didukung lagi oleh situasi dari berbagai aspek yang kondusif.[R-14]
"Permasalahan itu juga harus seimbang jika ditinjau secara positif."Jika dilihat objektif, penilaian negatif dari permasalahan mengandung sisi positif untuk memacu semangat dan kraetifitas pemimpin dalam menata Jakarta ke arah yang lebih baik," kata Nachrowi yang akrab dengan sapaan Nara di Jakarta, Senin (3/9).
Apalagi penilaian negatif tentang hasil pembangunan yang telah dihasilkan pemerintah daerah sekarang ini bernuansa politis.
"Ini tak objektif lagi. Meskipun ada hasil positif akan selalu dinilai negatif. Jika kita melihat dari sisi negatif, tentu hasilnya akan selalu negatif," tegas Nara.
Dia menilai incumbent calon Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) punya komitmen menata Jakarta ke arah yang lebih baik. Foke punya semangat dan kreatifitas.
Penataan Jakarta dilakukan berdasarkan keseimbangan, misalnya pertambahan kendaraan bermotor dengan pertambahan jumlah jalan.
Nara mengatakan, kritik yang selalu diarahkan ke Fauzi Bowo sebagai gubernur yang tidak bisa juga mengatasi macet.
"Pak Foke sudah punya grand design mengenai mass rapid transportation. Tinggal dilaksanakan," ujar Nara.
Nara menyatakan aspek positif kemacetan adalah semakin banyak warga Jakarta yang memiliki kehidupan yang baik sehingga mampu memiliki kendaraan bermotor. Selain itu, kondisi ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya terdongkrak positif.
"Mungkin penjualan kendaraan bermotor terutama yang baru terus meningkat kalau situasinya tidak baik. Sisi ini yang selama ini tidak pernah dilihat masyarakat," ucap Nara.
Kemacetan, menurut Nara, disebabkan mobilitas masyarakat yang semakin tingg untuk berbagai kegiatan, seperti bekerja, sekedar jalan-jalan dan lain sebagainya. Mobilitas masyarakat yang tinggi ini juga menandakan bahwa kehidupan itu berjalan baik. Kehidupan berjalan artinya harus didukung lagi oleh situasi dari berbagai aspek yang kondusif.[R-14]
0 komentar:
Posting Komentar