Hati-Hati Survei Pilkada pada Penutupan Masa Kampanye
Tujuannya, menggiring opini publik pada calon-calon tertentu.
Menjelang hari penutupan kampanye, lembaga-lembaga survei gencar mempublikasikan hasil survei pasangan calon gubernur DKI Jakarta.
Tujuannya, menggiring opini publik pada calon-calon tertentu.
"Hati-hati, jangan sampai terjebak pada survei yang dirilis hari terakhir karena akan memberikan kesan terakhir," kata pengamat politik, Yunarto Wijaya, dari Charta Politika dalam diskusi bertajuk "Menghitung Hari Pilgub DKI" di kawasan Cikini, Jakarta, hari ini.
Yunarto mengatakan, dalam dua hari terakhir kampanye, ada lembaga-lembaga survei yang berusaha menyatakan pilkada hanya satu putaran. Padahal, hal tersebut mengarahkan pada ikon salah satu pasangan calon.
Dia menambahkan, soal penekanan pilkada kemungkinan besar satu putaran sengaja dilempar ke publik pada penutupan masa kampanye untuk membentuk persepsi bahwa memang calon tertentulah yang menang. Padahal tidak ada hal yang bisa menjamin tersebut.
"Kalau untuk satu putaran semua calon juga sebenarnya tidak ada yang mau Pilkada lama-lama," kata dia lagi.
Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI, Ramdansyah mengatakan, lembaga survei pernah digugat dan minta diawasi Panwaslu. Namun, substansi itu dibatalkan.
Menurut dia, lembaga-lembaga survei seharusnya diawasi oleh asosiasi lembaga mereka yang bisa mengukur pelanggaran kode etik survei.
Sementara dalam tujuh hari masa kampanye, semua pasangan dan tim suksesnya sudah melakukan pelanggaran etika politik maupun kampanye. Namun Panwaslu belum memberi kategori hal-hal yang berkaitan dengan tindak pidana.
Belum lama ini Jaringan Survei Indonesia (JSI) dan Soegoeng Sarjadi Syndicate merilis hasil survei Pilkada DKI. Adapun hari ini adalah hari terakhir masa kampanye jelang pemilihan 11 Juli.
0 komentar:
Posting Komentar