Sosialisasi Pemilukada Jakarta Nihil
Lembaga Survei Bungkam, Kampanye Terselubung Jalan Terus
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta yang seharusnya sudah mulai gencar melakukan sosialisasi pelaksanaan pemilukada DKI Jakarta untuk putaran kedua pada 20 September mendatang hingga saat ini masih sangat minim bahkan tak terlihat, sangat berbeda dengan pemilukada pada putaran pertama. Dengan demikian, kalau pada putaran pertama angka golput tercatat mencapai 37%, untuk putaran kedua ini diperkirakan akan meningkat.
Fenomena menjelang putaran kedua ini lebih didominasi oleh pertengkaran kata oleh masing-masing tim sukses seiring dengan berbagai peristiwa seperti kebakaran yang melanda beberapa pemukiman di Jakarta. Hal inipun kini mulai redup karena tak jelas 'juntrungannya', sementara warga korban kebakaran terlihat tidak terlalu risau dengan perang opini tersebut, hanya saja para korban kebakaran ini merasa tidak nyaman dan kemudian menentang adanya upaya eksploitasi oleh salah satu parpol pendukung kandidat.
Oleh karena kampanye resmi yang dijadwalkan oleh KPUD DKI Jakarta pada 14-16 September, dimana waktu tiga hari ini hanya untuk pendalaman atau penajaman visi misi tanpa adanya pengerahan massa seperti pada putaran pertama lalu dianggap tidak cukup oleh masing-masing timses kandidat sangat tidak cukup, sehingga masing-masing pasangan kandidat acapkali mengadakan kegiatan yang banyak melibatkan masyarakat sebagai kampanye terselubung.
Sementara itu, terkait dengan sepinya penilaian menang kalah oleh lembaga survei atas masing-masing kandidat untuk putaran kedua ini, menurut Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit, ada dua hal yang menjadi penyebabnya. Pertama adalah lembaga survei tidak ingin mengulangi lagi kesalahan seperti pada putaran pertama. Penyebab kedua adalah, para kandidat tidak mau lagi menyewa lembaga survei karena pengalaman pahit pada putaran pertama.
Selain itu menurut Arbi Sanit, merosotnya tingkat kepercayaan para pasangan calon dan parpol pendukungnya juga salah satu faktor yang mendorong lembaga survei tidak lagi dilibatkan,"Beberapa lembaga survei juga sudah kapok untuk melakukan survei karena pasangan nomor satu yang dinyatakan akan menang dalam satu putaran ternyata tidak terbukti,"ucap Arbi Sanit kepada wartawan,

0 komentar:
Posting Komentar