Pemilukada Jakarta Kampanye Makin Tak Sehat |
|
|
|
JAKARTA– Model kampanye menjelang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta
semakin tidak sehat. Masing-masing kubu menyerang lawan secara
serampangan.
Beberapa propaganda yang menyudutkan pasangan cagub mudah terlihat di penjuru Ibu Kota.Dari selebara ngelap,spanduk, short message service (SMS) berantai, hingga BlackBerry Messenger (BBM).Isi propaganda pun beragam mulai isu suku, agama,ras, dan antargolongan (SARA),tudingan korupsi,hingga pelanggaran lainnya. Panwaslu DKI Jakarta pun harus mengusut isi ceramah yang diduga bermuatan SARA. Begitupun dengan dugaan politisasi bencana kebakaran harus diselidiki panwaslu.Begitu pun dengan iklan di sejumlah stasiun televisi swasta, juga dipersoalkan karena diduga mencuri start kampanye. Tidak berhenti di sini, data kemiskinan di Kota Surakarta (Solo) ataupun DKI Jakarta juga menjadi senjata untuk menyerang kubu lawan.Pun demikian dengan kasus dugaan korupsi. Bahkan, penggunaan APBD DKI Jakarta dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Begitupun dengan penggunaan APBD Pemkot Surakarta juga dilaporkan ke KPK. Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Iberamsjah mengatakan, fenomena saling serang yang melibatkan masing- masing tim sukses pasangan cagub,membuktikan bahwa sikap politik mereka belum dewasa. Menurut dia, cara-cara politik yang tidak sehat tersebut justru merugikan warga Ibu Kota. “Mayoritas masyarakat Jakarta akan melakukan apa yang dilakukan oleh figur yang ada. Jika tim dalam figur tersebut menggunakan cara yang tidak sehat, tentunya ke depan masyarakat juga akan meniru cara-cara tersebut,”kata Iberamsjah kemarin. Dia juga menilai tim kampanye pasangan cagub tidak cerdas dalam mengemas isu. Padahal, langkah tersebut kontraproduktif dengan pembangunan demokrasi. “Saat ini kedua tim sukses berusaha membangunkan sisi emosional masyarakat, bukan sisi rasionalnya,” kritik Iberamsjah. Seharusnya masing-masing kandidat mengedepankan sikap politik yang santun. Namun yang terjadi, mereka menggunakan segala cara untuk memperoleh kemenangan. Dampak dari cara-cara tersebut membuat sistem politik Indonesia berjalan di tempat. “Kita memang masih dalam tahap menjalankan demokrasi, namun cara mana yang akan kita tempuh, apakah yang menggunakan rasional atau mengedepankan emosi semata harus sudah dipilih,”tuturnya. Anggota tim sukses Jokowi- Ahok,Deni Iskandar,membantah bahwa pihaknya memainkan isu SARA dalam Pilkada DKI Jakarta. Sebaliknya, dirinya mengaku sebagai korban. Mengenai adanya iklan di televisi swasta yang diduga mencuri start kampanye, Deni mengelak.“ Kami hanya melakukan pendidikan politik lewat media. Jika memang hal tersebut menyalahi, kami akan mengikuti aturan yang ada,” terang Deni Iskandar. Sementara itu Budi Siswanto, sekretaris tim sukses Foke- Nara,mengakui dinamika politik pada putaran kedua lebih dinamis. Karena itu, tensi persaingan politik semakin memanas. Namun, dia menegaskan kampanye politik harus tetap santun dan beradab. “Sudah ada panwaslu yang mengawasi, silakan bekerja secara profesional,”tutur Budi. ● |


0 komentar:
Posting Komentar