Kamis, 30 Agustus 2012

0 back to nature Masyarakat Indonesia Gunakan Herbal




Ilustrasi herbal [google]





















Filosofi hidup sehat dengan cara kembali ke alam (back to nature) sepertinya mulai meluas pada masyarakat di Tanah Air. Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat saat ini sudah hampir 60%(59,1%) masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan herbal sebagai terapi kesehatan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer Kemkes Abidinsyah Siregar, mengatakan, herbal yang paling banyak dipakai di antaranya adalah kencur,jahe, temu lawak, kunyit dan lainnya.    Daerah yang paling banyak menggunakan herbal adalah Kalimantan Tengah, sedangkan terendah adalah Sulawesi Utara. Sebanyak 59% orang yang menggunakan jamu, hampir 100% mengaku sangat bermanfaat bagi kesehatan mereka.

Ada sekitar 26 masalah kesehatan yang bisa menggunakan herbal, antara lain diabetes,demam, hipertensi, obesitas, insomnia,arthritis,infeksi saluran pernapasan akut,kanker, dan disfungsi ereksi.

Upaya yang dilakukan pemerintah saat ini telah mengarahkan obat tradisional pada bidang pelayanan kesehatan formal, di mana sebanyak 40 rumah sakit di Indonesia telah mendapatkan ijin untuk itu.

Kemkes menargetkan 70 rumah sakit pemerintah sudah harus menggunakan herbal dalam terapi bagi pasien, dan 50% pengobatan di semua rumah sakit di Indonesia menggunakan herbal.

"Kalau sekarang baru 40 rumah sakit pemerintah, tetapi kan swasta juga menggunakannya, berarti mungkin sudah lebih dari 100," kata Abidin di sela-sela acara media briefing bertemakan Hidup Sehat dengan Herbal, yang diselenggarakan PT Deltomed Laboratories di Jakarta,Kamis (12/7) siang ini.

Lebih lanjut Abidin mengatakan, sebagai negara tropis Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terbesar ke dua di dunia setelah Brazil.

Indonesia memiliki sekitar 25.000-30.000 spesies tanaman yang merupakan 80% dari jenis tanaman di dunia dan 90% dari jenis tanaman di Asia. Sebanyak 940 spesies di antaranya berpotensi untuk dikembangkan menjadi tanaman obat. Namun spesies tanaman yang telah terdaftar di BPOM dan digunakan oleh industri obat tradisional saat ini baru mencapai 283.
Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terkaya di dunia dalam cadangan plasma nuftah obat.

"Ironisnya bahan baku obat impor kita masih di atas 90%, padahal Indonesia punya potensi besar baik herbal maupun biota laut. Sayangnya masih non konvensional karena belum disepakati satu standar, di mana setiap budaya dan daerah  berbeda cara penanganan penyakit," katanya lagi.

Dalam dekade ini, di tengah banyaknya jenis obat modern di pasaran dan munculnya berbagai jenis obat modern baru, terdapat kecenderungan global untuk kembali ke alam. Faktor yang mendorong masyarakat untuk mendayagunakan obat bahan alami antara lain mahalnya harga obat modern atau sintetis dan banyaknya efek samping.

Abidin menambahkan, UU 36/2009 telah mengamanatkan semua pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus menerapkan pelayanan tradisional. Karena itu kepada swasta diimbau tidak perlu ragu untuk mengembangkan herbal menjadi produk untuk pelayanan kesehatan.

PT Deltomed, salah satu produsen penghasil obat tradisional bermutu tinggi terdepan yang telah berkarya selama 35 tahun di Indonesia. Semua produk Deltomed terbuat dari 100% bahan herbal. Salah satunya adalah Antangin, yakni ramuan herbal yang berfungsi mengatasi gejala masuk angin. Diolah menggunakan fasilitas Quadra Extraction System, yaitu sebuah mesin berteknologi Jerman yang mampu menghasilkan ekstrak bahan alami dengan kualitas terbaik.

"Antangin telah teruji secara klinis membantu meningkatkan system kekebalan tubuh, serta menjaga stamina. Ini berdasarkan hasil penelitian Departemen Farmakologi,Universitas Gadjah Mada Yogyakarta," kata Presiden Direktur PT Deltomed Laboratories Nyoto Wardoyo. [D-13]  

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates