Gerindra Usulkan Sesuai PT

"Dalam pandangan Partai Gerindra, sebaiknya calon presiden dan calon
wakil presiden dicalonkan parpol peserta pemilu. Atau bisa juga parpol
yang lolos PT saja. Tidak seperti 2004 dan 2009 lagi," kata Sekretaris
Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani saat ditemui di Jakarta, Rabu
(9/5).
Muzani menilai, jika parpol peserta pemilu mencalonkan capres dan
cawapres, berarti pola pikir yang diterapkan adalah capres dan cawapres
dicalonkan bersamaan dengan pelaksanaan pemilu legislatif. "Padahal
kenyataannya tidak. Pemilu legislatif dulu, baru pemilu presiden. Jadi
logikanya tidak kena," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR RI
itu.
Selain itu, kata Muzani, pengusungan capres dan cawapres sebaiknya
mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945. "Dalam pandangan Partai
Gerindra, UUD 1945 tidak menyebutkan berapa jumlah prosentasenya. Cuma
disebutkan capres dan cawapres dicalonkan oleh parpol," tukasnya.
Dia juga mengemukakan soal capres harus dibuka kran selebar-lebarnya
agar pemilu presiden mendatang bermunculan banyak calon. "Calon pemimpin
itu dimungkinkan sebanyak-banyaknya sehingga rakyat mendapat
pilihan-pilihan yang banyak. Jangan dibatasi," ujarnya.
Pembatasan-pembatasan itu harus mengacu pada UUD 1945, demokrasi, dan
mengacu pada aspirasi. "Pilihan rakyat yang mengerucut pada satu nama
itu pilihan final. Bukan pilihan yang dikotak-kotakan dengan sebuah
sistem yang membatasi calon-calon tertentu," kata Muzani.
Muzani juga menegaskan, soal capres 2014 dari Partai Gerindra, semua
kader sepakat mengusung Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Dukungan
ini tanpa ada perdebatan internal partai. "Keputusan itu diambil dengan
cara yang mufakat, demokratis dan dukungan penuh partai," imbuhnya.
Menurut Muzani, strategi yang kini dilakukan partainya untuk memuluskan
kemenangan Prabowo pada 2014 adalah sejak dini sudah memusatkan
perhatian pada penguatan kerja mesin partai. Muzani mengungkapkan,
ketetapan Prabowo sebagai capres diambil pada Kongres Luar Biasa Partai
Gerindra yang dilaksanakan pada 17 Maret 2012 di Bogor.
"Pergerakan partai sekarang ini sudah sampai ke desa karena ingin
selain sukses di pilpres, juga di pileg (pemilu legislatif, red),"
pungkasnya. (yay) PARTAI Gerindra sepertinya sependapat dengan gagasan
PAN yang ingin menghapus syarat pengajuan capres sebagaimana diatur
dalam pasal 9 UU No 24 tahun 2008. Gerindra minta syarat capres bukan
berdasarkan perolehan suara partai secara nasional atau prosentase kursi
di parlemen.
"Dalam pandangan Partai Gerindra, sebaiknya calon presiden dan calon
wakil presiden dicalonkan parpol peserta pemilu. Atau bisa juga parpol
yang lolos PT saja. Tidak seperti 2004 dan 2009 lagi," kata Sekretaris
Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani saat ditemui di Jakarta, Rabu
(9/5).
Muzani menilai, jika parpol peserta pemilu mencalonkan capres dan
cawapres, berarti pola pikir yang diterapkan adalah capres dan cawapres
dicalonkan bersamaan dengan pelaksanaan pemilu legislatif. "Padahal
kenyataannya tidak. Pemilu legislatif dulu, baru pemilu presiden. Jadi
logikanya tidak kena," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR RI
itu.
Selain itu, kata Muzani, pengusungan capres dan cawapres sebaiknya
mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945. "Dalam pandangan Partai
Gerindra, UUD 1945 tidak menyebutkan berapa jumlah prosentasenya. Cuma
disebutkan capres dan cawapres dicalonkan oleh parpol," tukasnya.
Dia juga mengemukakan soal capres harus dibuka kran selebar-lebarnya
agar pemilu presiden mendatang bermunculan banyak calon. "Calon pemimpin
itu dimungkinkan sebanyak-banyaknya sehingga rakyat mendapat
pilihan-pilihan yang banyak. Jangan dibatasi," ujarnya.
Pembatasan-pembatasan itu harus mengacu pada UUD 1945, demokrasi, dan
mengacu pada aspirasi. "Pilihan rakyat yang mengerucut pada satu nama
itu pilihan final. Bukan pilihan yang dikotak-kotakan dengan sebuah
sistem yang membatasi calon-calon tertentu," kata Muzani.
Muzani juga menegaskan, soal capres 2014 dari Partai Gerindra, semua
kader sepakat mengusung Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Dukungan
ini tanpa ada perdebatan internal partai. "Keputusan itu diambil dengan
cara yang mufakat, demokratis dan dukungan penuh partai," imbuhnya.
Menurut Muzani, strategi yang kini dilakukan partainya untuk memuluskan
kemenangan Prabowo pada 2014 adalah sejak dini sudah memusatkan
perhatian pada penguatan kerja mesin partai. Muzani mengungkapkan,
ketetapan Prabowo sebagai capres diambil pada Kongres Luar Biasa Partai
Gerindra yang dilaksanakan pada 17 Maret 2012 di Bogor.
"Pergerakan partai sekarang ini sudah sampai ke desa karena ingin
selain sukses di pilpres, juga di pileg (pemilu legislatif, red),"
pungkasnya. (yay) PARTAI Gerindra sepertinya sependapat dengan gagasan
PAN yang ingin menghapus syarat pengajuan capres sebagaimana diatur
dalam pasal 9 UU No 24 tahun 2008. Gerindra minta syarat capres bukan
berdasarkan perolehan suara partai secara nasional atau prosentase kursi
di parlemen.
"Dalam pandangan Partai Gerindra, sebaiknya calon presiden dan calon
wakil presiden dicalonkan parpol peserta pemilu. Atau bisa juga parpol
yang lolos PT saja. Tidak seperti 2004 dan 2009 lagi," kata Sekretaris
Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani saat ditemui di Jakarta, Rabu
(9/5).
Muzani menilai, jika parpol peserta pemilu mencalonkan capres dan
cawapres, berarti pola pikir yang diterapkan adalah capres dan cawapres
dicalonkan bersamaan dengan pelaksanaan pemilu legislatif. "Padahal
kenyataannya tidak. Pemilu legislatif dulu, baru pemilu presiden. Jadi
logikanya tidak kena," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR RI
itu.
Selain itu, kata Muzani, pengusungan capres dan cawapres sebaiknya
mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945. "Dalam pandangan Partai
Gerindra, UUD 1945 tidak menyebutkan berapa jumlah prosentasenya. Cuma
disebutkan capres dan cawapres dicalonkan oleh parpol," tukasnya.
Dia juga mengemukakan soal capres harus dibuka kran selebar-lebarnya
agar pemilu presiden mendatang bermunculan banyak calon. "Calon pemimpin
itu dimungkinkan sebanyak-banyaknya sehingga rakyat mendapat
pilihan-pilihan yang banyak. Jangan dibatasi," ujarnya.
Pembatasan-pembatasan itu harus mengacu pada UUD 1945, demokrasi, dan
mengacu pada aspirasi. "Pilihan rakyat yang mengerucut pada satu nama
itu pilihan final. Bukan pilihan yang dikotak-kotakan dengan sebuah
sistem yang membatasi calon-calon tertentu," kata Muzani.
Muzani juga menegaskan, soal capres 2014 dari Partai Gerindra, semua
kader sepakat mengusung Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Dukungan
ini tanpa ada perdebatan internal partai. "Keputusan itu diambil dengan
cara yang mufakat, demokratis dan dukungan penuh partai," imbuhnya.
Menurut Muzani, strategi yang kini dilakukan partainya untuk memuluskan
kemenangan Prabowo pada 2014 adalah sejak dini sudah memusatkan
perhatian pada penguatan kerja mesin partai. Muzani mengungkapkan,
ketetapan Prabowo sebagai capres diambil pada Kongres Luar Biasa Partai
Gerindra yang dilaksanakan pada 17 Maret 2012 di Bogor. "Pergerakan
partai sekarang ini sudah sampai ke desa karena ingin selain sukses di
pilpres, juga di pileg (pemilu legislatif, red)," pungkasnya. (yay)
0 komentar:
Posting Komentar