Jumat, 31 Agustus 2012

Gerindra Minta SBY Sidak Pasar

JAKARTA - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk turun langsung ke lapangan guna mengecek harga-harga kebutuhan pangan selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Hal tersebut terkait dengan kelangkaan bahan pangan di pasar. "Presiden SBY perlu ke lapangan untuk cek dengan keadaan yang sebenarnya.

Cek laporan menteri-menterinya dengan keadaan sebenarnya di lapangan, tanya ke rakyat, tukang ojek, tukang sayur, kenapa tempe tahu hilang di pasaran, apa sebabnya?" kata Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, di Jakarta, Senin (30/7). Presiden SBY, sambungnya, sejenak lepaskan sistem protokoler yang melekat demi mendengar keluhan masyarakat.
"Presiden SBY tanpa protokoler lakukan sidak di lapangan dan dari sana akan ketahui secara persis apa yang terjdi pada masyarakat. Serta akan tahu apakah laporan menteri-menterinya benar atau tidak sehingga bisa mengambil keputusan," tukas Muzani. Ia menenggarai, para pembantu Presiden SBY hanya memberikan laporan bahwa keadaan di lapangan sudah berjalan sesuai harapan.
"Jangan-jangan SBY dilapori baiknya saja oleh menteri-menterinya. Saya rasa menteri-menterinya lapor Asal Bapak Senang (ABS) saja dan ini harus diingatkan agar presiden jangan mudah terima begitu saja laporan anak buahnya," sebut anggota Komisi I DPR RI itu.  Muzani mencontohkan, setiap menjelang Ramadan, saat Ramadhan dan Idul Fitri, harga kebutuhan pokok melonjak-lonjak, hampir tiap hari naik tanpa kontrol sama sekali.
"Pemerintah selalu bilang stok cukup tapi kenapa harga selalu melonjak. Pemerintah tidak pernah mengantisipasi masalah kenaikan harga sebagai ritual tahunan, akhirnya rakyat jadi korban, kesejahteraan rakyat dikorbankan," sebut dia. Anehnya lagi, pemerintah di tengah krisis seperti ini malah menaikkan laju inflasi setiap puasa dan lebaran.
"Bukannya menaikkan pertumbuhan tingkat konsumsi yang bisa menderek pertumbuhan ekonomi. Kenaikan laju inflas ini berbanding terbalik. Pemerintah hanya mau enaknya saja, kalau kurang, impor, impor. Misalnya kedelai, pemerintah tak mau bertindak mengantisipasi dan hanya bertugas sebagai penjaga. Pemerintah tidak mau peduli dengan rakyatnya, rakyat berjalan tanpa kendali atau negara ini seperti auto pilot," beber Muzani.
Muzani menilai, krisis pangan bisa berimbas pada ketahanan bangsa. Krisis pangan memiliki pengaruh yang begitu besar terhadap stabilitas negara. "Kalau rakyatnya kenyang, maka masyarakat akan mempertahankan negara dengan kuat, kalau lapar dan bergantung pada asing, bagaimana mempertahankan negara dengan baik dan ini sangat berbahaya," kata Muzani. (yay)

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates