Sabtu, 27 April 2013

0 Selalu ada saat untuk bertindak dan memihak

      Politik adalah sebuah tugas sedih: usaha menegakkan keadilan di dunia yang berdosa.
Tugas itu bukan karena komando sebuah partai atau kekuasaan apapun.
Tugas itu muncul, dari dalam diri kita, karena ada sebuah luka.
Kita merasa harus melakukan sesuatu karena itu.
Luka itu terjadi ketika pada suatu hari, dalam kehidupan sosial kita, ada “peristiwa politik” yang dianiaya, ada sesama yang berbeda dan sebab itu hendak dibinasakan.
Luka itu ketidak-adilan.
.
Ada luka, dan aku ada: pada momen itu aku tahu apa yang terasa tak adil.
Meskipun aku belum bisa merumuskan seluruhnya apa yang disebut adil, aku terpanggil.
Di situlah seorang intelektual publik seharusnya terpanggil untuk memihak.
Dengan itu ia memandang politik sebagai sebuah tugas, bukan untuk sebuah ambisi.
Ia tak duduk di tepi ongkang-ongkang, merasa harus bermartabat di mahligai.
Ia tak berbeda dengan seorang tetangga yang ikut memadamkan api bila rumah di sudut sana terbakar, bukan hanya untuk menyelamatkan kampung seluruhnya (dan tentu saja rumahnya sendiri), tapi juga karena ia terpanggil untuk tak menyebabkan orang lain menderita
.
Dunia memang berdosa. Penderitaan dan kekejian tak pernah hilang dari dalamnya.Maka perjuangan, atau pergulatan politik, akan selalu dibayangi cacat.
Kita tak bisa menerima “politik sebagai panglima” bila di sana tak ada kebebasan lagi untuk mengakui cacat itu, bila pertimbangan kalah dan menang menelan secara total seluruh sudut hidup kita, selama-lamanya. Sebab tiap perjuangan politik akan terbentur pada keterbatasannya sendiri.
.
Bila aku memilih A hari ini, aku memilihnya dengan bersiap untuk kecewa. Aku juga memilihnya bukan untuk selama-lamanya. Aku hanya memilihnya sebagai sarana yang saat ini kurang cacat di antara yang amat cacat – sarana sementara untuk mencegah luka lagi, meskipun pencegahan itu tak pernah pasti.
.
Kita bersiap kecewa. Tapi kita tak menyerah.
Pengalaman sejarah menunjukkan, di tengah ketidak-adilan yang akut, yang kita derita, manusia selalu menghendaki keadilan — yang entah di mana, yang entah kapan datang.
.
Politik adalah tugas merambah jalan di belukar; membuka celah agar keadilan itu datang.
Terkadang tangan jadi kotor, hati jadi keras; dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri.
Di depan belukar itu, kita berjudi dengan masa depan.
Siapa yang menuntut kepastian penuh dari sejarah akan mendustai diri sendiri.
Selalu ada saat untuk bertindak dan memihak – juga ketika kita menolak untuk bertindak dan memihak.
Tapi pada saat yang sama juga ada saat untuk berdiri agak menjauh.
Terkadang dengan ironi, terkadang dengan penyesalan, tapi selamanya dengan kesetiaan: di dunia yang berdosa.
.
Pilihan kita bisa salah, tapi tugas tak henti-hentinya memanggil,
dan politik selamanya meminta.
.
Kita mungkin gagal.
Meski demikian, tetap ada yang berharga yang kita perkelahikan.
.

-
Sumber (Dari berbagai sumber):

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates