Senin, 25 Februari 2013

0 Pilihan Politik adalah Mati Atau Mukti



Berikut ini adalah sekilas mengenai profil Anas.
Nama lengkap: Anas Urbaningrum
Tempat, tanggal lahir: Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969
Agama: Islam
Jabatan: Ketua Umum DPP Partai Demokrat

PENDIDIKAN:
SD Negeri Bendo I, Blitar (1982)
Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir, Blitar (1985)
SMA Negeri Srengat, Blitar (1988)
Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga (1992)
Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia (2000)

KEGIATAN LAIN:Sekretaris OSIS MTsN Kunir (1983-1984)
Ketua SKI OSIS SMAN Srengat (1986-1987)
Kelompok Studi Dharmawangsa, Surabaya (1989-1992)
Ketua Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur
Ketua Umum PB HMI (1997-1999)
Anggota Tim Revisi UU Politik (Tim 7) (1998)
Anggota Panitia Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum (P3KPU) atau Tim Verifikasi Partai Politik Peserta Pemilu (1999)
Direktur Komunitas untuk Transformasi Sosial (2000)
Anggota Tim Revisi UU Politik Depdagri (2000)
Anggota Komisi Pemilihan Umum (2001-2005)
Ketua Bidang Politik dan Otda DPP Partai Demokrat
Ketua Umum Partai Demokrat (2010-sekarang)

PUBLIKASI:Berbagai kolom di surat kabar, majalah, dan jurnal
Menuju Masyarakat Madani (1997)
Jangan Mati Reformasi (1999)
Ranjau-Ranjau Reformasi (1999)

PENGHARGAAN:Lulusan Terbaik FISIP Universitas Airlangga Universitas Airlangga (1992)
Sumber: Litbang Kompas





Mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum memang sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus korupsi Hambalang. Ia juga sudah menyatakan mundur dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat.
Meski pun begitu, dukungan terhadap Anas terus mengalir. Bahkan, rumah mantan Ketua Umum PB HMI tersebut terus didatangi oleh banyak tokoh politik. Tidak hanya dari Demokrat, tapi juga dari partai-partai lain.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Saiful Umam mengatakan, ada tiga hal yang membuat kediaman Anas di Duren Sawit Jakarta Timur itu tetap ramai dikunjungi tokoh politik.

Pertama, untuk memberikan simpati.

Kedua, hubungan personal, baik itu jaringan atau pertemanan.

Ketiga, kepentingan untuk membangun aliansi melawan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dengan kata lain, kita ingin menegaskan kembali, bahwa di dalam politik, tidak ada kata mati. Untuk saat ini, karier politik Anas memang tengah meredup dan hampir bisa dipastikan tidak akan memiliki peran politik formal pada Pemilu 2014 mendatang.
Sejumlah tokoh di tanah air misalnya sudah membuktikan hal itu, seperti pernah dialami Akbar Tanjung, yang pernah ditahan karena dugaan korupsi dana Bulog, serta Abdurrahman Wahid yang terpaksa lengser, karena kasus Buloggate.
Dan, yang paling fenomenal tentu apa yang pernah dialami Nelson Mandela. Tokoh yang sangat mendunia ini sudah bolak-balik dijebloskan penguasa ke penjara. Namun, dia kemudian bangkit, dan selanjutnya berhasil menjadi Presiden Afrika Selatan.
Dalam konteks kasus yang dialami Anas, kendati berstatus sebagai tersangka, sebagaimana disebut Saiful Umam di atas, politisi muda yang dikenal cerdas ini, tetap dikunjungi banyak orang untuk menyampaikan simpati dan dukungan.
Apalagi dalam pidato terakhirnya sebagai Ketua Umum DPP Demokrat, Anas menyatakan, dirinya merupakan korban rekayasa dan konspirasi penguasa. Jika, Anas bisa membuktikan dirinya tidak bersalah, dapat dipastikan, pamornya akan kembali melejit sebagai orang yang telah dizalimi KPK dan penguasa.
Sebaliknya, pamor Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY dipastikan akan meredup, karena pada tahun depan (2014), masa jabatannya sebagai Presiden RI akan berakhir. Dengan begitu, kader Demokrat tidak bisa lagi terus-menerus berharap padanya.
Nah, ketika era kekuasaan SBY dipastikan akan berakhir tahun depan, pada bahagian lain, era Anas Urbaningrum masih panjang. Statusnya sebagai tersangka, belum akan membuat karier politiknya tamat. Sebab, dalam dunia politik, tidak ada kata mati.








sumber:http://politik.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates