Sabtu, 26 Januari 2013

0 SIKAP DAN KOMUNIKASI PEMIMPIN YANG HANDAL




Untuk menjadi politisi atau pemimpin handal tidak mungkin dadakan. Mestilah disiapkan sejak kecil. Obama kecil telah “mempersiapkan” dirinya sebagai calon pemimpin masa depan sejak tinggal di Menteng, Jakarta, kurun 1967-1971. Obama sendiri lahir tanggal 4 Agustus 1961.
Di Menteng, Obama bersekolah di sekolah negeri, berbaur dengan teman-teman kecilnya dari segala lapisan, dan menyerap aneka perbedaan di sekitarnya: perbedaan agama, warna kulit, ras, kaya, miskin, dst.
Beranjak besar, usia SMA dan perguruan tinggi, Obama terus aktif dalam organisasi di sekolahnya. Berorganisasi dan kepedulian pada lingkungan sosial terus diasah ketika Obama tamat dari perguruan tinggi. Ia terus melakukan aktifitas pelayanan sosial. Lalu menjadi senator dan kemudian terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44.
Pemimpin handal mau tak mau harus berjiwa terbuka (inklusif) dan menerima perbedaan. Orang ekslusif dan militan paling-paling jadi teroris dan hanya mungkin diterima di sebagian kecil orang itupun di kelompoknya saja.
Pendidikan formal dan nonformal di Indonesia cenderung menanamkan antiperbedaan dan kebencian. Orang beragama lain disebut kafir dan tidak masuk surga. Kalau ada sempalan dalam agama sendiri maka akan disebut penodaan agama. Intinya, tidak mau menerima realitas perbedaan. Kebenaran adalah dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri. Sulit lahir pemimpin hebat dari lingkungan sosial seperti ini.
Cara terbaik adalah merantau. Pergi jauh meninggalkan lingkungan sosial yang ekslusif. Pergi jauh melihat dunia. Melihat perbedaan. Melihat aneka orang berpacu dalam prestasi, bukan karena agamanya, bukan karena warna kulitnya, bukan karena sukunya, dst. Semata-mata pencapaian prestasi.
Pemimpin butuh bakat alam yang ditempa oleh kerasnya kehidupan. Energi kepedulian yang memancar dari dalam diri. Berlatih sepanjang hayat dalam pusaran lingkungan sosialnya. Dan ini mustahil dadakan.



Berikut ada alat komunikasi yang dirumuskan oleh John C. Maxwell, penulis buku best seller Go for Gold.
1. Bersikap Konsisten
Pemimpin yang tidak dapat memutuskan akan membuat anggota timnya frustasi. Tidak konsistennya Anda membuat tim merasa Anda tidak dapat diandalkan dan perkataan Anda tidak dapat dipercaya.
2. Bersikap Jelas
Tim Anda tidak dapat bekerja dengan baik jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan. Lebih baik Anda dikenal sebagai pemimpin yang mampu bersikap terus terang daripada pemimpinyang sekedar pandai.
3. Bersikap Ramah
Setiap orang haruslah Anda hargai. Betapapun kecil sumbangsihnya, tanpa dia Anda tidak akan ada di posisi sekarang. Dengan sikap ramah, Anda menetapkan ‘nada’ untuk seluruh organisasi sehingga dapat bekerja dengan bersinergi. Jangan pernah lupa bahwa Anda adalah pemimpinnya, komunikasi Anda menetapkan nada untuk interaksi orang-orang Anda.
Jangan pernah lupa, komunikasi tidak berjalan satu arah. Sepatutnya Anda tidak bersikap diktatorial atau perintah dari atas ke bawah. Pemimpin yang baik bisa mendengarkan, mengundang, dan mendorong anak buahnya berpartisipasi.






sumber:  (Kabar24.com/nel/juanda) kompasiana.com










0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates