Minggu, 11 November 2012

0 Tips Memilih Pasangan ( Jodoh )


Tips memilih pasangan ini saya ambil dari sharing Mario Teguh yang diungkapkan dalam tiga serial. Poin-poinnya saya ambil dari Beliau, dengan penjelasan yang saya coba lengkapi dibawahnya.  Pasangan yang dimaksud disini calon suami atau calon istri .


PRA PERNIKAHAN


Anda akan menua bersamanya, bayangkan seperti apa dia saat tua nanti. Apakah sifat-sifat buruknya sekarang akan surut, atau semakin memburuk.
Kalau dari pacaran saja sudah kasar, sering maki-maki, tidak peduli, jangan harapkan keajaiban dia bakal berubah setelah menikah. 

Akan banyak sifat dan kebiasaannya yang belum tentu sesuai dengan Anda, dan yang bisa menjadi sumber perbedaan yang menjauhkan setelah bara cinta di antara Anda meredup.
Karena itu sebelum menikah, temukan perbedaan itu, dan bayangkan, bisa tidak menghadapinya nanti jika sudah berada dalam jenjang pernikahan? 5 tahun? 15 tahun? 25 tahun? Mampu untuk menghadapi kenyataan? Karena bara cinta biasanya di awal saja, setelah itu…wah kalau tidak dijaga dengan luar biasa, bisa-bisa bara cintanya pindah ke orang lain, atau meredup dan mati.

Apakah dia akan tetap setia sampai tua. Apakah dia memiliki kesukaan berbohong dan mengarang cerita, atau menyangkal yang dikatakannya sendiri?
Kalau sudah tidak yakin, mending tidak  usah. Misal dia menyembunyikan BBM yang baru masuk, di telepon bilang lagi mengantar mamanya ke rumah sakit tapi backsoundnya house music, atau penyangkalan-penyangkalan lain.

Apakah dia akan menjadi pasangan yang menurunkan anak-anak yang sehat dan cerdas.
Cek kesehatan , plus riwayat penyakit orang tua, plus gaya hidup, plus perhatikan lingkungannya. Demikian juga dengan konsep membesarkan anak ? Cenderung memanjakan, atau membuat rumah seakan kamp pelatihan? Makanya kalau masa pacaran itu banyak ngobrol, bukan banyak ‘kegiatan’ *hehehe*

Apakah Anda berdua bersedia meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai bagi satu sama lain?
Ya…yang krusial saja. Misal berhenti merokok karena pasangan tidak mau jadi perokok pasif. Berhenti mabuk-mabukan dll, …

Perhatikanlah, apakah dia menghina saat marah, tidak logis saat cemburu.
Kalau masa pacaran saja saat  marah sudah memukul, mengintimidasi jiwa dan raga, bullying, mending ditinggal aja deh. Masa pacaran itu kan masa promosi, harusnya yang terlihat yang indah-indah saja. Kalau dia sudah menunjukkan gejala yang tidak indah pada masa pacaran, apalagi pada masa pernikahan, yang mau tidak mau harus menerima keburukan pasangan.

Apakah dia berfokus pada penyelesaian masalah dan bukan pada siapa yang salah, dan merayakan saat-saat berbahagia daripada mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu.
Ah, paling sebel deh kalau dia nanyain mantan. Helllooo? Kita sudah masuk era baru lo, kok dia masih mengungkit masa lalu. Lalu mulai blow up kesalahan masa lalu, tidak melihat masa depan bahagia yang di depan mata.

Apakah dia pemalas? Wanita atau laki-laki pemalas tidak sesuai untuk kehidupan yang aktif dan menghasilkan. Sulit sekali dibayangkan sebuah keluarga yang sejahtera bisa dibangun melalui sifat malas.

Wah iya, paling sebel kalau melihat pasangan duduk manis di sofa seharian, sementara kita jungkir balik bekerja. Itu secara harafiah ya. Lainnya, pasangan sibuk bekerja mencari nafkah, sedangkan kita menghambur-hamburkannya. Iya kalau kaya, kalau ngga ya uang terbuang sia-sia. Jadi pasangan itu harus saling mendukung dan bekerja sama, sifat malas harus dihilangkan.

Apakah dia sombong, suka membangga-banggakan harta. Orang seperti itu akan mengeluhkan nikmat Tuhan yang selain uang, dan akan memiskinkan keluarga dengan kecenderungan berbelanja di atas kemampuan untuk memelihara gengsi.
Suatu saat akan kena batunya. Jarang bersyukur, maunya di atas orang lain terus. Padahal kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kalau di atas doang sih enak, waktu di bawah ini lo baru ketahuan, sifat aslinya bagaimana.




PASCA PERNIKAHAN


Sejujur-jujurnya masa pendekatan atau pacaran, tetap menyembunyikan keaslian yang baru tampak dalam pernikahan.
Namanya saja pernikahan, banyak kejutannya. Jadi siap-siap saja, semua yang nampak clear saat pacaran, menjadi blur saat di dalam pernikahan. Pernikahan seperti judi, meski sudah dipersiapkan sedemikian rupa, ada saja hal-hal yang terjadi di luar dugaan. Karena itu perlu kerja keras untuk menjaga kelanggengan (Trims buat Erri Subakti atas masukannya^^)

Semua hubungan yang tidak dipelihara akan turun kualitasnya, dari sebuah 
kebersamaan karena niat untuk berbahagia, menjadi bersama-sama mencemoohkan kesalahan satu sama lain.
Yang dimaksud dengan dipelihara adalah, berusaha memahami satu sama lain. Kalau gagal paham, harus didiskusikan, biar untuk berikutnya permasalahan tidak tambah besar.

Bukan kurangnya cinta yang menjadikan sebuah kebersamaan tidak membahagiakan, tapi tidak cukupnya persahabatan.
Kata orang, kehidupan berpasangan lama-lama menjadi teman baik. Awalnya cinta, tapi setelah itu ada rasa saling mengerti dan memahami, selalu siap sedia kapanpun dimanapun, selalu mendukung dalam suka dan duka.

Itu sebabnya, pasangan hidup yang terbaik adalah sahabat yang Anda nikahi, atau Anda berdua menjadikan pernikahan Anda sebuah persahabatan yang jujur, dekat, mesra dan saling setia.
Jadi kalau jadian dengan teman sendiri, jangan disesali. Asyik aja lah, karena dia sudah kenal kita luar dalam. Hidup berpasangan sih hanya berbeda bentuknya saja. Kalau bukan dari teman dekat calon pasangan kita, ya buat diri kita menjadi teman untuknya, bukan hanya pasangan yang berhak menerima cintanya, tapi juga memberi perhatian yang nyata untuknya.

Salah satu tanda kecocokan, adalah jika Anda bertengkar, Anda berdua bertengkar dengan tujuan untuk menjadi lebih dekat, bukan bertengkar seperti pasti pisah - tapi untung-untung kalau bisa damai.
Bertengkar terjadi karena ada perbedaan pendapat. Tujuannya bertengkar, supaya membuat persoalannya jelas dan ujung-ujungnya tercapai kesepakatan.Tanpa gondok.

Dan bukankah indah sekali, jika Anda bisa saling marah kepada satu sama lain tapi tetap meneruskan berjalan-jalan sambil bergandengan tangan, untuk mencapai pengertian yang meredakan kemarahan dan semakin meleburkan hati Anda berdua dalam kesejatian cinta.
Nah, ini yang susah. Kalau berantem malah biasanya pingin jauh-jauh, males untuk berdekatan. Apalagi bergandengan tangan, ngga berantem aja susah cari kesempatan gandengan tangan, apalagi pas berantem :) Tapi yang bisa kita lakukan, ya diam-diaman dulu saja sampai amarah mereda. Setelah itu perhatikan, jika mood pasangan lagi baik, mulai tawarkan perdamaian. Bisa lewat gandengan tangan, atau lebih dari itu juga boleh kok…*grin*

Hahaha…bener Pak Mario! Lebay memakan perhatian, lebay merusak konsentrasi, dan lebay mengekspresikan diri^^






sumber : www.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates