Kamis, 15 November 2012

0 Tidur Dengan Lampu Menyala Mempengaruhi Mood dan Kognisi






Ritme Sirkardian (24 jam) berpengaruh besar terhadap keadaan emosinal dan kognitif kita. Ritme siang-malam dalam kehidupan kita berpengaruh besar terhadap perilaku dan kemampuan kita untuk belajar. Bahwa siang adalah waktu yang cukup untuk tubuh terpapar cahaya dan malam hari adalah saat dimana tubuh tidak seharusnya terpapar lagi dengan cahaya yang berkepanjangan. Telah banyak penelitian yang menemukan bahwa tidur pada malam hari sangat berpengaruh terhadap emosional dan kemampuan otak untuk belajar. Dan, hal itu disebabkan karena adanya pengaruh cahaya. Meskipun siklus sirkadian dan siklus tidur-bangun normal, tetapi jika terpapar cahaya yang berkepanjangan juga mempengaruhi mood dan kemampuan tikus-tikus yang digunakan dalam penelitian untuk mempelajari hal-hal yang baru.
Sebuah penelitian yang baru dipublikasi kemarin, 14 November 2012 pada jurnalNature, menemukan bahwa terlalu banyak cahaya ketika malam hari juga akan mempengaruhi keadaan emosional dan kognitif kita. Para peneliti dari Johns Hopkins University Krieger School of Arts and Sciences melakukan penelitian pada hewan coba dan menemukan bahwa sel khusus di mata, yang disebut sel ganglion retina fotosensitif intrinsik, atau ipRGCs, mempengaruhi pusat otak yang mengatur emosi, memori dan pembelajaran. Sel-sel aktif jika terkena cahaya.
“Pada dasarnya, apa yang kami temukan adalah bahwa paparan kronis cahaya terang pada malam hari akan meningkatkan kadar hormon stres tertentu dalam tubuh, yang mengakibatkan depresi dan menurunkan fungsi kognitif, “kata Samer Hattar, seorang profesor biologi di Johns Hopkins University
Memang hasil penelitian ini dilakukan pada tikus, tetapi menurut Hattar, Tikus dan manusia memiliki banyak kesamaan secara biologis dan tikus juga memiliki  ipRGCs di mata mereka yang mempengaruhi perilaku mereka dengan cara yang sama dengan manusia.
Tim Hattar, yang dipimpin oleh mahasiswa pascasarjana Tara LeGates dan Cara Altimus, mengemukakan bahwa tikus akan bereaksi dengan cara yang sama dengan manusia. Mereka teori tersebut dengan mengekspos tikus dengan cahaya selama 3,5 jam dan kemudian 3,5 jam dalam kegelapan.   Penelitian sebelumnya dengan menggunakan siklus ini menunjukkan bahwa hal itu tidak mengganggu siklus tidur tikus, tetapi tim Hattar menemukan bahwa hal itu menyebabkan depresi pada hewan.  Cahaya yang berkepanjangan akan menyebabkan tikus menjadi depresi dan hipokampus tikus menjadi abnormal. Padahal tikus-tikus ini memiliki siklus yang tidur yang normal.
“Tentu saja, anda tidak dapat meminta tikus menceriterakan apa yang mereka rasakan, tapi kami melihat peningkatan perilaku depresi, termasuk kurangnya minat terhadap gula atau mencari kesenangan dan tikus-tikus tersebu jarang bergerak dengan jarak yang jauh. “Mereka juga tidak belajar dengan cepat atau mengingat pembelajaran. Mereka tidak tertarik pada benda-benda baru seperti tikus berada pada siklus terang-gelap yang teratur..”
Hewan-hewan juga mengalami peningkatan kadar kortisol, hormon stres yang telah dikaitkan dalam penelitian sebelumnya tentang masalah belajar. Pemberian fluoxetineatau desipramine yang umumnya diresepkan sebagai anti-depresan, akan mengurangi gejala depresi dan mengembalikan suasana emosional tikus menjadi sama seperti keadaan semula dan tingkat pembelajaran mereka juga akan pulih kembali. Hal ini memperkuat bukti bahwa masalah mereka dalam belajar disebabkan oleh depresi.
Menurut Hattar, hasil ini menunjukkan bahwa manusia harus waspada terhadap paparan cahaya terang di malam hari yang rutin dalam kehidupan kita, karena mungkin memiliki efek negatif pada suasana emosional dan kemampuan untuk belajar. “Saya tidak mengatakan kita harus duduk dalam gelap gulita di malam hari, tapi saya sarankan bahwa kita harus beralih pada keadaan dengan tidak terlalu terang.









sumber :www.kompasiana.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates