Budayawan Betawi Ingatkan Sejarah Pemimpin DKI dari Berbagai Kalangan
RIDWAN SAIDI
Jakarta Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengingatkan bahwa pemimpin DKI dari masa ke masa datang dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan. Ridwan juga memaparkan bahwa kepemimpinan Jakarta pada awal-awal dibangun adalah kepemimpinan yang tenang.
"Yang tidak disadari orang Jakarta itu gaya kepemimpinan kota Jakarta itu cool dan tenang. Zaman dulu itu kota Jakarta punya DPRS. Itu yang dipimpin oleh Suwiryo (Walikota DKI Jakarta pertama, sebelum berubah menjadi gubernur-red), dengan SK Gubernur 35. Beliau meletakkan basis kelembagaan pemerintaah daerah antara lain dengan DPRS," kata Ridwan Saidi.
Hal itu dikatakan Ridwan dalam acara diskusi terbuka dan persiapan apel siaga pembekalan 3.000 relawan Pos Perjuangan Rakyat (Pospera), Jl Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Minggu(9/9/2012). Pospera merupakan pendukung Jokowi-Ahok.
Ridwan juga mencontohkan Syamsurijal yang pernah memimpin Jakarta, adalah gubernur Sulawesi Selatan.
"Syamsurijal, yang memimpin (membuka kawasan-red) Cempaka Putih kalem dan tenang sampai tahun 1953. Dia itu gubernur Sulawesi Selatan," ujarnya.
Tak lupa Ridwan mengingatkan bahwa ada gubernur DKI Jakarta yang beragama Kristen, Henk Ngantung.
"Pada zaman dulu terjadi konflik berat mengenai bom atom Jepang dan AS, Henk Ngantung bikin pasar atom, yang dijual ada kacang atom. Beliau itu bukan PKI karena beliau seniman yang akrab, banyak seniman berkumpul, Lekra sering ngumpul sama Henk Ngantung ini. Henk Ngantung gubernur paling kerenlah," puji Ridwan.
Jadi Ridwan menegaskan bila isu SARA tidak akan efektif untuk mempengaruhi pemilih di Jakarta ini.
Dia juga mengingatkan bahwa orang Jakarta tidak bisa dipimpin dengan keras, karena kondisi Jakarta di mana-mana keras. Ridwan lantas mencontohkan Nelson Mandela, yang memimpin negaranya dengan kalem.
Seperti apa pemimpin DKI seharusnya?
"Bisa memberesi kesemwrawutan di jalan, di pasar, lebih menegakkan Kamtibmas dengan Muspida, tidak bisa sendiri-sendiri itu dilakukan. Pembangunan gedung yang menjulang tinggi, kebersihan Jakarta tuh harus lebih ditunjukkan, kalau pun anggaran kecil tapi tidak susah juga kan?" ujarnya.
"Harus ada rest area di jalan panjang, seperti di TB Simatupang, tempat beristirahat dibuat nyaman, mencapai 1 titik ke titik lain, sehingga tidak capai duluan. Anggaran yang ada dihemat untuk Jakarta yang nyaman, sehingga kalau macet juga nggak ada perkara," kata pria berambut putih gondrong ini.
(nwk/nrl)
0 komentar:
Posting Komentar