Jumat, 31 Agustus 2012

Pentingnya Alat Kontrasepsi

PDF Print
Para wanita dewasa, sepertinya masih “alergi” dengan yang namanya alat kontrasepsi. Hambatan baik berupa agama, adat, dan alasan ekonomi menjadi pemicu minimnya kepesertaan pasangan usia subur (PUS) untuk menggunakan alat penjarang kehamilan ini.


Padahal,kontrasepsi memiliki kegunaan yang amat banyak.Tidak hanya untuk menunda kehamilan, tetapi dapat digunakan untuk mengatasi siklus haid tidak teratur, mengurangi angka kelahiran, kehamilan yang tidak diinginkan, dan kematian ibu saat persalinan. Dengan begitu,pada akhirnya menjaga keseimbangan populasi dan mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP),Jakarta,dr Frizar Irmansyah SpOG (K) mengakui,pengetahuan pasutri terhadap kesehatan reproduksi masih rendah.Adapun yang menyedihkannya lagi,tidak berkorelasi secara signifikan dengan tingkat pendidikan pada umumnya. “Meskipun pendidikan orang tersebut sudah S-2,pengetahuan kesehatan reproduksinya belum tentu lebih baik.Karena itu, memengaruhi pola penerimaan dia terhadap pentingnya penggunaan alat kontrasepsi,”ujarnya kepada SINDO di RSPP,Jakarta.

Selain itu,menurut dia,budaya patriarki masih kental dianut masyarakat Indonesia.Setiap pengambilan keputusan apa pun dalam rumah tangga musti sepengatahuan dan seizin sang suami.Meskipun sebenarnya pengetahuan kaum pria mengenai penggunaan alat kontrasepsi juga belum memadai. “Jadi,kaum wanita di Tanah Air masih kurang berdaya.Sementara, inisiatif kaum prianya dalam menggunakan kontrasepsi masih rendah,”kata Frizar.

Dia mengutarakan,beda dengan di negara Barat yang posisi pria suami dan istri yang sama tinggi, perdebatan penggunaan kontrasepsi didiskusikan secara berdua. Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010, penggunaan kontrasepsi pada wanita usia 10-49 tahun yang berstatus kawin hanya sebesar 55,85%. Dibandingkan pada 2007 yang mencapai 61,4%,tentu ini mengalami penurunan.

Hal tersebut ditengarai akibat banyak PUS yang enggan menggunakan alat kontrasepsi. Frizar mengutarakan, penggunaan jenis kontrasepsi paling tinggi di Indonesia,yaitu suntikan atau injeksi sekitar 27,8%, disusul pil KB sebesar 13,2%,dan sisanya yang lain.Menurut dia, setiap macam alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.IUD (Intrauterine Device) atau biasa disebut spiral, misalnya,hanya dipasang satu kali dan dapat bertahan hingga bertahun-tahun lamanya.

Namun,metode IUD ini sering kali menimbulkan gangguan keputihan dan nyeri saat menstruasi. Sementara,pil KB bisa membuat menstruasi teratur, menambah jumlah darah menstruasi.menghilangkan nyeri dan mengurangi PMS (premenstrual syndrome) serta tulang tidak keropos.Adapun kekurangannya, pil KB rutin diminum setiap hari sehingga agak merepotkan. Untuk pilihan implan atau susuk KB,alat kontrasepsi ini mudah, nyaman,dan bertahan lama.

Kerugiannya,kadang timbul vlek usai pemakaian sehingga mengganggu saat berhubungan suami-istri.Dia menganjurkan, dalam menentukan kontrasepsi apa yang dipakai,di samping efektif mencegah kehamilan, pilih yang mempunyai manfaat lain. Misalnya yang mudah dipakai, nyaman,tidak mengganggu kesehatan,dan tidak membuat tulang keropos.

”Yang paling penting,tujuannya dulu mau apa. Apa hanya menunda kehamilan, menjarangkan jumlah anak,agar menstruasi teratur,atau ingin selamanya tidak punya anak lagi. Masing-masing alasan punya jenis kontrasepsi sendiri-sendiri,”kata Frizar. ● rendra hanggara 
 
 

0 komentar:

Posting Komentar

 

ekoqren Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates