JAKARTA
- Calon Gubernur DKI Jakarta yang kini masih menjabat sebagai Walikota
Solo, Joko Widodo, diminta tidak hanya fokus mengejar kemenangan dalam
Pilkada DKI. Tanggung jawab utama Joko Widodo adalah menjalankan
tugasnya di Solo yang saat ini dilanda berbagai teror.
"Kejadian di Solo yang terus berulang ketika polisi diserang terus tidak
bisa dibiarkan. Jangan karena terus menerus mengejar jabatan yang
lebih tinggi, amanah yang ada diabaikan," kata Ketua Fraksi Partai
Amanat Nasional (PAN), Tjatur Sapto Edy, di Gedung DPR, Senayan,
Jakarta, hari ini. Bila Jokowi tidak sanggup menangni hal ini
di Solo, Tjatur pun ragu Jokowi bisa menuntaskan persoalan di Jakarta
yang kompleksitasnya jauh lebih besar. Karena itu, ungkap Tjatur, PAN
sadar betul untuk mendukung Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta.
"Kami memutuskan tidak mendukung Jokowi karena banyak faktor.Kami yakin
Jokowi lebih baik menyelesaikan tugas dan amanahnya di Solo ketimbang
mencari jabatan baru.Jokowi lebih dibutuhkan di Solo ketimbang Jakarta,"
tegasnya. Sebagai salah satu partai yang mengusung Jokowi
dalam koalisi berbagai macam partai, Jokowi menurutnya juga tidak
memiliki etika dan kesantunan dalam berpolitik. "Dia diusung oleh
banyak partai termasuk PAN. Waktu kami memberikan izin dan mendukung
dia menjadi walikota Solo dia menerimanya, tapi ketika hendak
melepaskan amanah dia sama sekali tidak izin," jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, keputusan PAN untuk tidak mendukung Jokowi sudah
tepat karena PAN pun tidak memustuskan berdasarkan subjektivitas tapi
objektivitas dan fakta. Salah satu yang paling penting dari fakta itu
adalah PAN tidak melihat secara jelas prestasi jokwo di Solo.
"Dari tim penanggulanan kemiskinan daerah Solo, tercatat dari 560 warga
Solo, ada 130 orang miskin. Sementara data BPS menyebutkan tingkat
kemiskinan di Solo mencapai 13 persen. Ini diatas rata-rata nasional,
dan Solo pun menjadi daerah paling miskin di Jawa Tengah dan nasional,"
demikian Tjatur. (dat17/rmol) |
0 komentar:
Posting Komentar