Ketika Jokowi Melawan Industri Politik
Jokowi : Langsung Terjun Ke Persoalan-Persoalannya Rakyat (Sumber Photo : Pikiran Rakyat Online)
Dalam
sejarah Politik modern Indonesia, sekarang ada dua fenomena : Jokowi
dan Industri Politik, fenomena pertama adalah orang ini merupakan sebuah
antitesis terbesar dalam sejarah kebejatan dunia politik Indonesia,
Jokowi muncul tiba-tiba seperti Angel Investor yang menjamin penyelamatan Indonesia ke depan dari kebangkrutannya menuju negara gagal, Jokowi adalah centrum
dari suara-suara oposisi yang terpinggirkan oleh sistem yang terbentuk
dan mewakili arus besar demokrasi kerakyatan. Di sisi lainnya industri
politik kemudian berkembang menggantikan pola politik ideologis ala
Sukarnois dan pola politik floating mass ala Suharto.
Industri
politik mendapat benihnya ketika pemilu 2009 dimana muncul fenomena Fox
Indonesia yang memunculkan Mallarangeng bersaudara, kemudian muncul
fenomena LSI dimana Denny JA menjadi boss analis politik, politik tidak
lagi dilihat sebagai bentukan mobilisasi kampanye berdasarkan gesekan
debat-debat sastra beraliran tertentu, podium-podium kantung masyarakat
tapi berkembang menjadi mesin-mesin penggerak yang direkayasa agar
mendapatkan pencitraan, persepsi dan kerangka-kerangka yang dicantolkan
ke benak banyak orang. Politik bukan lagi sebuah pesan bergelora,
pesan-pesan patriotik, bukan lagi seperti istilah Bung Karno “Berdansa
dengan Maut”, politik sekarang adalah ruang kering tanpa nyawa, ia
terdiri angka-angka, ia prosentase, ia survey entah itu angka bohong
atau angka jujur.
Jokowi
membongkar balikkan industri politik, ia menciptakan baju kotak-kotak
sebagai media transformasi ruang partisipatif rakyat, tapi juga Jokowi
ikut masuk ke dalam industri politik itu dengan mempelajari bagaimana
politik bergerak, lalu menggembosinya dari dalam, ketika ia memobilisir
pedagang-pedagang pasar untuk aktif ia telah masuk ke dalam tahap paling
awal ‘Ruang Partisipatif Rakyat’.
Ketika Jokowi menghancurkan industri politik saat ia membangun sikap kesukarelawanan,
di masa politik ideologis berkembang, politik sukarelawan adalah yang
utama, para pemain politik amat ideologis dan pandangan idealismenya
harga mati, gontok-gontokan dijalan adalah lumrah, namun kemudian
demokrasi liberal mengenalkan politik uang sebagai media untuk
pengenalan kandidat ke tengah masyarakat, rakyat tidak lagi berdaulat
atas pilihan politiknya seperti di masa lampau, tidak memiliki
kegembiraan yang spontan tapi rakyat dihadapkan pada pasar pembentuk
industri itu sendiri. Satu-satunya musuh politik uang adalah sikap
kesukarelawanan.
Namun
di masa sekarang amat sulit, karena politik sudah merupakan profesi,
tidak ada sakralitas dalam dunia politik, negara bukan lagi ruang angker
penuh kanon-kanon konstitusi tapi negara sekarang dipandang sebagai
manifestasi paling lurus permainan patgulipat politik anggaran APBN.
Jokowi
berdiri di panggung sejarah, ia disorot jutaan lampunya mata rakyat, ia
adalah orang paling terkenal saat ini, sebuah fenomena yang namanya
setara dengan Sukarno, Suharto ataupun Gus Dur. Ia berada pada
persimpangan sejarah bangsa, dalam dirinya tersimpan sejarah besar
tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan : “Untuk apa Negara ini Berdiri?”
Di
sisi lain, industri Politik sudah menggurita dan negara bagai
perusahaan terbuka yang sahamnya dipegang kaum cukong, anggota parlemen,
pemerintah dan ormas-ormas. Sementara rakyat banyak hanya berperan
sebagai pemegang saham kecil, yang hanya hadir saat RUPS sewaktu
kampanye, sebagai pemilik Proxy Saham yang disetir kaum cukong dan
politisi.
Negara
bukan lagi sebuah ruang sakral dimana Sukarno berpidato tiap tanggal 17
Agustus, dimana Suharto memimpin kabinet di Bina Graha tapi negara
sudah berubah menjadi meja para bandar yang taruhan dana-dana anggaran
APBN dimana para broker mencatatkan transaksi-transaksinya.
Saya
tak bisa membayangkan bagaimana Pilkada DKI tanpa Jokowi, ia seperti
oksigen dalam udara pembebasan Indonesia, oksigen yang amat tipis.
Pertaruhan terbesar bagi bangsa ini, justru setelah Jokowi menjadi DKI
1. Bisa tidak kaum revolusioner,. Kaum muda yang ingin menjaga sejarah
untuk mengarahkan Jokowi menjadi pelaksana kemurnian Pasal 33 UUD 1945,
dimana pasal itu adalah pasal paling pokok yang bisa menjelaskan kenapa
kita tak berdaulat di sumber-sumber minyak kita, di kekayaan alam kita,
di kesejahteraan kita.
Saya
ingin bertanya, bukankah negara ini didirikan dengan didasarkan sikap
kesukarelawanan? – seperti Sukarno, Hatta dan anggota kabinet RI pada
jam-jam pertama menerima surat dari intelijen Jepang bahwa tentara
Jepang siap menembak habis dengan mitraliyur orang-orang yang sedang
berkumpul di rapat Ikada, apabila Bung Karno berani datang ke lapangan
Ikada”. Lalu Bung Karno berdiri, “Saya akan ke lapangan Ikada menemui
rakyat , dengan resiko apapun, silahkan yang mau ikut saya, atau
silahkan yang mau pulang ke rumah masing-masing”. Disaat itulah
kepemimpinan bertemu dengan pertanggungjawabannya, Sukarno menjawab
bahwa masa depan bangsanya tidak boleh berada di bawah
ketakutan-ketakutan.
Kini
pundak Sukarno beralih ke Jokowi untuk berhadapan dengan Industri
Politik, Penghinaan Pasal 33 UUD 1945 dan Menghancurkan politik uang
menjadi Politik Sukarelawan. Bisakah Jokowi menjawab tantangan jaman
tanpa memproduksi rasa takut dan menakut-nakuti?.
Menciteer ucapan WS Rendra : “Demokrasi
itu bukan sekedar suara bebas, bukan sekedar kebebasan bicara,
bukan….bukan itu….Demokrasi itu adalah Partisipasi Rakyat yang penuh ke
dalam Ruang Publik, adalah soal Daulat Rakyat”. Dari Daulat Rakyat inilah Jokowi bisa dijaga agar tetap menjadi monumen sejarah yang jujur.
0 komentar:
Posting Komentar